c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Humor

Si Kabayan dan Dua Ekor Burung

CR
Cerita Rakyat Nusantara

Diterbitkan 14 September 2026 • 2 Menit Baca

Suatu pagi, mertua Si Kabayan menyuruhnya berburu burung di hutan. "Jangan pulang sebelum membawa burung," pesan mertuanya. "Kita sudah lama tak makan daging."

Kabayan membawa ketapel dan berjalan ke hutan. Di tepi hutan, ia melihat dua ekor burung puyuh hinggap di dahan yang sama. Ia membidik dengan hati-hati. Tetapi sebelum sempat melepaskan batu, ia berpikir.

"Kalau kutembak satu, yang satu lagi pasti terbang. Aku hanya akan dapat satu. Padahal mertuaku, istriku, dan aku bertiga. Satu burung tak akan cukup." Kabayan menurunkan ketapelnya dan duduk di bawah pohon, berpikir keras.

"Lebih baik aku menunggu sampai ada burung ketiga. Baru kutembak semuanya sekaligus." Maka ia menunggu. Matahari makin tinggi. Kabayan menguap. Angin sepoi-sepoi berembus, dan tanpa sadar ia tertidur pulas.

Ketika bangun, matahari sudah condong ke barat. Kedua burung itu sudah tak ada. Kabayan panik. Ia tak mungkin pulang dengan tangan kosong. Ia berjalan menyusuri hutan, dan akhirnya menemukan sebuah sarang burung di semak-semak, berisi dua butir telur.

Kabayan membawa pulang telur-telur itu dengan bangga. "Ini dia," katanya kepada mertuanya.

"Telur? Mana burungnya?"

"Burungnya ada di dalam, Pak," jawab Kabayan tenang. "Tadi aku hampir menembak dua burung, tapi aku kasihan. Burung yang sudah dewasa kan punya keluarga. Jadi kuambil yang masih kecil-kecil saja. Nanti kalau sudah menetas dan besar, dagingnya lebih banyak. Dua butir telur ini sebenarnya dua ekor burung, tinggal kita sabar menunggu."

Mertuanya tak bisa berkata apa-apa. Istri Kabayan tertawa sampai mengeluarkan air mata. "Kalau begitu, kau saja yang mengeraminya, Kang!"

Malam itu mereka makan nasi dengan telur dadar. Kabayan makan dengan lahap sambil berkata, "Nah, kan. Burungnya enak, bukan?"

Kisah ini sering diceritakan untuk menertawakan sifat kita sendiri yang kadang terlalu banyak menunda. Menunggu kesempatan yang sempurna kadang membuat kita kehilangan kesempatan yang sudah ada di depan mata.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “Si Kabayan Moro Manuk” (Jawa Barat). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

CR

Tentang Penulis: Cerita Rakyat Nusantara

Kisah-kisah turun-temurun dari berbagai daerah di Indonesia, diceritakan ulang oleh redaksi.

Lihat Semua Karya Cerita Rakyat Nusantara →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Humor

Si Gendut dan Si Kurus
Humor 3 Menit Baca

Si Gendut dan Si Kurus

Di stasiun kereta api Nikolayevsky, dua sahabat lama bertemu tanpa sengaja. Yang satu bertubuh gemuk. Ia baru saja makan siang di restoran stasiun, dan bibirnya masih berminyak, berkilau seperti buah...

Si Bunglon
Humor 3 Menit Baca

Si Bunglon

Inspektur polisi Ochumelov berjalan melintasi alun-alun pasar dengan mantel barunya, diikuti seorang polisi berambut merah yang membawa ayakan penuh buah gooseberry sitaan. Suasana sepi. Tiba-tiba ter...