Suatu pagi, mertua Si Kabayan menyuruhnya berburu burung di hutan. "Jangan pulang sebelum membawa burung," pesan mertuanya. "Kita sudah lama tak makan daging."
Kabayan membawa ketapel dan berjalan ke hutan. Di tepi hutan, ia melihat dua ekor burung puyuh hinggap di dahan yang sama. Ia membidik dengan hati-hati. Tetapi sebelum sempat melepaskan batu, ia berpikir.
"Kalau kutembak satu, yang satu lagi pasti terbang. Aku hanya akan dapat satu. Padahal mertuaku, istriku, dan aku bertiga. Satu burung tak akan cukup." Kabayan menurunkan ketapelnya dan duduk di bawah pohon, berpikir keras.
"Lebih baik aku menunggu sampai ada burung ketiga. Baru kutembak semuanya sekaligus." Maka ia menunggu. Matahari makin tinggi. Kabayan menguap. Angin sepoi-sepoi berembus, dan tanpa sadar ia tertidur pulas.
Ketika bangun, matahari sudah condong ke barat. Kedua burung itu sudah tak ada. Kabayan panik. Ia tak mungkin pulang dengan tangan kosong. Ia berjalan menyusuri hutan, dan akhirnya menemukan sebuah sarang burung di semak-semak, berisi dua butir telur.
Kabayan membawa pulang telur-telur itu dengan bangga. "Ini dia," katanya kepada mertuanya.
"Telur? Mana burungnya?"
"Burungnya ada di dalam, Pak," jawab Kabayan tenang. "Tadi aku hampir menembak dua burung, tapi aku kasihan. Burung yang sudah dewasa kan punya keluarga. Jadi kuambil yang masih kecil-kecil saja. Nanti kalau sudah menetas dan besar, dagingnya lebih banyak. Dua butir telur ini sebenarnya dua ekor burung, tinggal kita sabar menunggu."
Mertuanya tak bisa berkata apa-apa. Istri Kabayan tertawa sampai mengeluarkan air mata. "Kalau begitu, kau saja yang mengeraminya, Kang!"
Malam itu mereka makan nasi dengan telur dadar. Kabayan makan dengan lahap sambil berkata, "Nah, kan. Burungnya enak, bukan?"
Kisah ini sering diceritakan untuk menertawakan sifat kita sendiri yang kadang terlalu banyak menunda. Menunggu kesempatan yang sempurna kadang membuat kita kehilangan kesempatan yang sudah ada di depan mata.