Di ujung timur Pulau Jawa, dahulu berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin Prabu Sulahkromo. Ia memiliki seorang patih yang gagah dan setia bernama Sidopekso. Istri Sidopekso, Sri Tanjung, terkenal cantik dan berbudi luhur.
Diam-diam sang raja jatuh hati pada Sri Tanjung. Untuk menyingkirkan Sidopekso, ia memberi tugas berat: pergi jauh ke negeri seberang untuk melaksanakan titah kerajaan. Sidopekso yang setia berangkat tanpa curiga.
Selama suaminya pergi, Prabu Sulahkromo berulang kali merayu Sri Tanjung. Namun perempuan itu menolak dengan tegas. "Hamba adalah istri patih Paduka," katanya. "Hamba akan setia menunggu suami hamba pulang."
Penolakan itu membuat sang raja murka. Ketika Sidopekso kembali, raja lebih dulu menemuinya dan memfitnah Sri Tanjung. "Selama kau pergi," katanya dengan wajah prihatin, "istrimu bermain gila dengan lelaki lain. Aku melihatnya sendiri."
Sidopekso terbakar cemburu. Ia pulang dan menuduh istrinya berkhianat. Sri Tanjung bersumpah bahwa ia tak bersalah, tetapi suaminya tak mau mendengar. Dengan hati hancur, Sidopekso menyeret istrinya ke tepi sungai yang airnya keruh dan berbau busuk. Ia menghunus keris.
"Kakanda," kata Sri Tanjung dengan tenang, "bila kau tak percaya padaku, bunuhlah aku. Tetapi lihatlah air sungai ini setelahnya. Bila airnya menjadi harum, itu tandanya aku tak bersalah. Bila tetap busuk, benarlah tuduhanmu."
Keris itu menancap. Tubuh Sri Tanjung jatuh ke sungai. Perlahan, air yang tadinya keruh berubah jernih, dan semerbak harum bunga menguar ke udara. Sidopekso jatuh berlutut. Ia sadar telah membunuh istri yang setia karena percaya pada fitnah.
"Banyu wangi... banyu wangi," ratapnya berulang kali. Air yang wangi.
Sejak itu daerah tersebut dinamai Banyuwangi. Kisah Sri Tanjung dituturkan turun-temurun sebagai pengingat bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, dan bahwa kecemburuan yang tak dikendalikan dapat menghancurkan hal paling berharga dalam hidup kita.