c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Renungan

Seutas Tali

GD
Guy de Maupassant

Diterbitkan 24 Agustus 2026 • 3 Menit Baca

Hari pasar di kota kecil Goderville, Normandia. Dari segala penjuru desa, para petani berdatangan dengan gerobak dan ternak mereka. Maître Hauchecorne, seorang petani tua dari Bréauté yang hemat dan cermat, berjalan menuju alun-alun ketika matanya menangkap seutas tali kecil tergeletak di tanah.

Sebagai orang Normandia sejati, ia berpikir bahwa segala sesuatu yang berguna layak dipungut. Ia membungkuk dengan susah payah karena rematiknya, memungut tali itu, dan hendak menggulungnya dengan rapi. Tetapi ia melihat Maître Malandain, si pembuat pelana, berdiri di ambang pintu memperhatikannya. Mereka pernah bertengkar dulu karena urusan tali kekang, dan sejak itu saling bermusuhan.

Hauchecorne merasa malu terlihat memungut tali tak berharga di jalanan. Ia cepat-cepat menyembunyikan tali itu di balik bajunya, lalu ke saku celananya, dan pura-pura mencari sesuatu di tanah. Kemudian ia berjalan ke pasar dengan kepala tertunduk.

Tengah hari, ketika para petani makan siang di penginapan Jourdain, terdengar genderang di halaman. Juru kabar kota mengumumkan dengan suara lantang: "Diberitahukan kepada seluruh penduduk Goderville dan semua yang hadir di pasar, bahwa pagi ini di jalan menuju Beuzeville, telah hilang sebuah dompet kulit hitam berisi lima ratus franc dan surat-surat penting. Siapa yang menemukan diminta mengembalikannya ke balai kota atau kepada Maître Houlbrèque dari Manneville. Akan diberikan hadiah dua puluh franc."

Tak lama kemudian seorang polisi masuk dan bertanya, "Apakah Maître Hauchecorne dari Bréauté ada di sini?"

Hauchecorne dibawa menghadap wali kota. "Maître Hauchecorne," kata wali kota, "pagi ini Anda terlihat memungut dompet yang hilang milik Maître Houlbrèque."

Hauchecorne terbelalak. "Saya? Memungut dompet itu?"

"Ya. Ada saksi terhormat yang melihat Anda. Maître Malandain, si pembuat pelana."

Petani tua itu teringat dan wajahnya merah padam karena marah. "Oh, bajingan itu! Ia melihatku memungut tali ini, Tuan Wali Kota!" Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan seutas tali kecil.

Wali kota menggeleng tak percaya. "Maître Malandain adalah orang terhormat. Ia tak mungkin salah melihat tali sebagai dompet." Hauchecorne bersumpah atas nama Tuhan dan keselamatan jiwanya. Ia minta digeledah, dan tak ada apa pun yang ditemukan. Akhirnya ia dilepaskan dengan peringatan.

Kabar itu menyebar dengan cepat. Ketika Hauchecorne keluar, orang-orang mengerubunginya, setengah bercanda dan setengah serius. Ia menceritakan kisah tali itu kepada semua orang. Tak ada yang percaya. Orang-orang tertawa.

Esok harinya, seorang buruh tani mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya. Ia menemukannya di jalan, dan karena tak bisa membaca, ia membawanya pulang dan memberikannya kepada majikannya.

Hauchecorne sangat gembira. Namanya sudah bersih! Ia berkeliling menceritakan kisahnya, kini dengan akhir yang membahagiakan. "Yang menyakitkan bukan kejadiannya," katanya, "tapi fitnahnya. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada dituduh berbohong."

Tetapi orang-orang hanya tersenyum sinis. "Ah, itu cuma alasan," kata seorang petani sambil mengedipkan mata. "Kau memungutnya, lalu menyuruh orang lain mengembalikannya. Orang licik memang begitu caranya."

Hauchecorne tercekat. Ia mengerti sekarang. Mereka mengira ia punya kaki tangan. Ia mencoba membela diri lagi dan lagi. Makin sering ia bercerita, makin panjang dan rumit penjelasannya, dan makin orang yakin ia bersalah. Di pasar, di penginapan, di gereja, orang-orang berbisik dan tertawa di belakangnya. "Tali, ya? Tali!"

Kesedihan itu menggerogoti hatinya. Ia berhenti bekerja dan hanya memikirkan kisah tali itu. Menjelang akhir Desember, ia jatuh sakit. Ia meninggal di awal Januari, dan dalam igauan menjelang kematiannya, ia terus bergumam membela diri:

"Seutas tali kecil... seutas tali kecil... lihatlah, Tuan Wali Kota, ini dia."

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “La Ficelle” karya Guy de Maupassant (Prancis, 1883). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

GD

Tentang Penulis: Guy de Maupassant

Cerpenis Prancis (1850–1893).

Lihat Semua Karya Guy de Maupassant →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Renungan

Raksasa yang Egois
Renungan 3 Menit Baca

Raksasa yang Egois

Setiap sore sepulang sekolah, anak-anak suka bermain di taman seorang raksasa. Tamannya luas dan indah, dengan rumput yang hijau lembut. Dua belas pohon persik berbunga merah muda di musim semi dan be...