c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Renungan

Berapa Luas Tanah yang Dibutuhkan Seseorang

LT
Leo Tolstoy

Diterbitkan 9 Agustus 2026 • 3 Menit Baca

Pahom adalah seorang petani yang hidup sederhana. Suatu hari ia mendengar istrinya berdebat dengan kakaknya yang tinggal di kota. Sang kakak membanggakan kehidupan kota yang nyaman, sementara istri Pahom membela kehidupan desa yang tenang. Pahom yang berbaring di atas tungku berpikir, "Masalah kami hanya satu: tanah kami terlalu sedikit. Kalau saja aku punya cukup tanah, aku tak takut pada siapa pun, bahkan pada Iblis sekalipun."

Iblis, yang bersembunyi di balik tungku, mendengarnya. "Baiklah," pikirnya, "akan kuberi kau tanah yang banyak, dan dengan tanah itu akan kutangkap kau."

Tak lama kemudian, seorang tuan tanah di dekat desa menjual tanahnya. Pahom mengumpulkan uang, berutang di sana-sini, dan membeli empat puluh hektare. Ia senang bukan main. Tetapi segera ia merasa terganggu oleh ternak tetangga yang masuk ke ladangnya. Ia mulai menuntut dan bertengkar dengan tetangga-tetangganya.

Lalu ia mendengar bahwa di sebuah daerah di tepi Sungai Volga, tanah dijual murah dan sangat subur. Ia menjual tanahnya dan pindah ke sana. Di sana ia memiliki tanah sepuluh kali lebih luas. Namun setelah beberapa tahun, ia merasa kurang lagi. Ia ingin tanah yang lebih luas, yang benar-benar miliknya.

Seorang saudagar yang singgah bercerita tentang negeri orang Bashkir, tempat tanah bisa dibeli hampir gratis. "Kau cukup memberi hadiah kepada kepala suku mereka," katanya. Pahom segera berangkat.

Orang-orang Bashkir menyambutnya dengan ramah. Kepala suku menawarkan cara yang aneh. "Harganya seribu rubel sehari," katanya.

"Sehari? Bagaimana mengukurnya?" tanya Pahom.

"Kami tak mengukur tanah dengan ukuran. Kami menjualnya per hari. Berapa pun luas tanah yang bisa kau kelilingi dengan berjalan kaki dalam sehari, itulah milikmu. Tetapi ada satu syarat: bila kau tak kembali ke titik awal sebelum matahari terbenam, uangmu hangus."

Pahom tak bisa tidur malam itu. Ia membayangkan tanah yang begitu luas. Esok subuh, mereka berkumpul di atas sebuah bukit. Kepala suku meletakkan topinya di tanah sebagai titik awal. Pahom menaruh uangnya di dalam topi itu dan mulai berjalan ke arah matahari terbit.

Tanahnya indah dan subur. Setiap kali ia hendak berbelok, ia melihat bagian yang lebih bagus di depannya. "Sedikit lagi," pikirnya. Ia terus berjalan jauh sekali sebelum berbelok ke kiri. Matahari makin tinggi dan panas. Ia melepas sepatu dan terus berjalan. Ketika akhirnya berbelok untuk kedua kalinya, bukit tempat ia berangkat hanya tampak sebagai titik kecil.

Matahari mulai condong. Pahom sadar ia terlalu jauh. Ia berbelok lagi dan mulai berlari menuju bukit. Kakinya luka, jantungnya berdebar seperti palu, dan mulutnya kering. Ia membuang mantel dan botol airnya. "Kalau aku berhenti sekarang, semua sia-sia," pikirnya.

Matahari menyentuh cakrawala ketika ia mencapai kaki bukit. Ia melihat orang-orang Bashkir di atas melambai-lambaikan tangan. Dengan sisa tenaganya, ia berlari mendaki dan jatuh tersungkur, tangannya menyentuh topi tepat saat matahari terbenam.

"Hebat!" seru kepala suku. "Kau mendapatkan tanah yang sangat luas!"

Pelayan Pahom berlari untuk membantunya berdiri. Tetapi darah mengalir dari mulut Pahom. Ia sudah mati.

Pelayannya mengambil sekop dan menggali kubur untuknya. Panjangnya dua meter, dari kepala sampai kaki. Hanya sebesar itulah tanah yang dibutuhkan Pahom.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “Много ли человеку земли нужно (How Much Land Does a Man Need?)” karya Leo Tolstoy (Rusia, 1886). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

LT

Tentang Penulis: Leo Tolstoy

Sastrawan besar Rusia (1828–1910).

Lihat Semua Karya Leo Tolstoy →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Renungan

Raksasa yang Egois
Renungan 3 Menit Baca

Raksasa yang Egois

Setiap sore sepulang sekolah, anak-anak suka bermain di taman seorang raksasa. Tamannya luas dan indah, dengan rumput yang hijau lembut. Dua belas pohon persik berbunga merah muda di musim semi dan be...