Dua lelaki tua bernazar untuk berziarah ke Yerusalem. Yang satu bernama Efim, seorang petani kaya yang cermat dan serius. Ia tak pernah minum, tak pernah merokok, dan tak pernah mengucapkan kata-kata kasar. Yang lain bernama Elisha, seorang lelaki tua yang periang dan baik hati. Ia tak kaya maupun miskin, suka minum sedikit, suka menyanyi, dan memelihara lebah.
Mereka sudah lama merencanakan perjalanan itu, tetapi Efim selalu sibuk dengan urusannya. Akhirnya mereka berangkat juga. Masing-masing membawa seratus rubel, dan mereka berjalan kaki berminggu-minggu melintasi Rusia.
Suatu hari mereka tiba di sebuah daerah yang dilanda paceklik. Elisha merasa haus dan singgah di sebuah gubuk untuk meminta air, sementara Efim berjalan lebih dulu. "Aku akan menyusul," kata Elisha.
Di dalam gubuk itu, Elisha menemukan pemandangan yang memilukan. Seorang lelaki terbaring lemas di lantai. Seorang perempuan tua berbaring di atas tungku. Seorang ibu terbaring dengan dua anak kecil yang menangis kelaparan. Mereka semua sekarat karena kelaparan dan sakit. Sudah berhari-hari mereka tak makan.
Elisha tak bisa berjalan pergi. Ia memberi mereka roti dari kantongnya, lalu pergi ke desa membeli makanan. Ia menyalakan tungku, memasak, dan merawat mereka. Hari demi hari berlalu. Keluarga itu perlahan pulih. Tetapi Elisha tahu bahwa bila ia pergi sekarang, mereka akan kembali kelaparan. Ladang mereka telah digadaikan, dan kuda serta sapi mereka telah dijual.
Maka Elisha menebus ladang mereka, membelikan seekor kuda dan sapi, serta gandum untuk ditanam. Ketika semuanya selesai, uangnya tinggal sedikit, tidak cukup lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Yerusalem. Ia berpikir, "Sahabatku Efim akan pergi ke Yerusalem sendirian. Dan aku? Aku tak akan sampai ke sana. Tapi Tuhan akan mengerti." Diam-diam ia berangkat sebelum fajar dan pulang ke rumahnya.
Sementara itu Efim tiba di Yerusalem. Ia mengunjungi semua tempat suci dan menyalakan lilin. Tetapi pikirannya terus terganggu. Ia khawatir uangnya dicopet, dan terus memikirkan urusan rumahnya. Di Gereja Makam Suci yang penuh sesak, di dekat altar, ia melihat seorang lelaki tua yang sangat mirip Elisha, berdiri di depan cahaya lilin dengan kepala botaknya yang bersinar. "Itu Elisha!" pikirnya. "Bagaimana ia bisa sampai lebih dulu?" Tetapi ketika misa selesai, lelaki itu menghilang di tengah kerumunan. Dua kali lagi Efim melihatnya di tempat yang paling suci, selalu berdiri di barisan paling depan, dan selalu menghilang ketika dicari.
Dalam perjalanan pulang, Efim melewati daerah yang dulu dilanda paceklik. Ia singgah di sebuah gubuk dan disambut dengan hangat oleh sebuah keluarga yang sehat dan bahagia. Mereka bercerita tentang seorang lelaki tua yang datang tahun lalu ketika mereka sekarat. "Ia merawat kami, memberi kami makan, menebus ladang kami, dan pergi tanpa memberi tahu namanya. Kami tak pernah tahu siapa dia, tapi kami mendoakannya setiap hari."
Efim menyadari bahwa itu adalah Elisha. Ia teringat sosok yang ia lihat di depan altar di Yerusalem.
Sesampainya di rumah, Efim menemui sahabatnya di kebun lebah. Elisha menyambutnya dengan gembira. "Selamat datang, sahabatku! Bagaimana perjalananmu?"
"Tubuhku sudah ke sana," jawab Efim. "Tapi aku tak tahu apakah jiwaku juga sampai. Dan kau... aku melihatmu di sana."
Elisha tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. "Itu urusan Tuhan, sahabatku."
Efim memandangi lebah-lebah yang beterbangan di sekitar Elisha tanpa menyengatnya, dan ia mengerti. Cara terbaik untuk memenuhi nazar kepada Tuhan adalah dengan mengasihi dan berbuat baik kepada sesama selama kita hidup di dunia ini.