Keesokan harinya, Sinbad si Kuli kembali ke rumah Sinbad si Pelaut. Setelah jamuan makan, sang pelaut melanjutkan kisahnya.
"Setelah pelayaran pertama, aku berniat hidup tenang di Baghdad. Tetapi jiwaku merindukan laut dan negeri-negeri asing. Aku membeli barang dagangan dan kembali berlayar."
"Kami singgah di sebuah pulau yang indah, penuh pohon buah dan bunga. Aku duduk di tepi sungai kecil, makan bekal, dan tertidur di bawah pohon yang rindang. Ketika aku bangun, kapal sudah pergi. Mereka lupa padaku."
"Aku memanjat pohon tertinggi untuk melihat sekeliling. Di kejauhan tampak sebuah kubah putih raksasa. Aku berjalan ke sana dan mengelilinginya. Kubah itu licin, tak berpintu, dan kelilingnya lima puluh langkah. Tiba-tiba langit menjadi gelap. Seekor burung raksasa melayang di atas, sayapnya menutupi matahari. Barulah aku sadar: itu burung Rukh, burung raksasa yang konon memberi makan anak-anaknya dengan gajah. Dan kubah putih itu adalah telurnya."
"Burung Rukh hinggap di atas telurnya dan tertidur. Aku mendapat akal. Kulepaskan sorbanku, dan kuikatkan tubuhku ke salah satu kaki burung itu. 'Mungkin ia akan membawaku ke tempat yang berpenghuni,' pikirku."
"Esok paginya, burung itu terbang tinggi sekali, hingga aku mengira kami akan menyentuh langit. Lalu ia turun di sebuah lembah yang dalam, dikelilingi tebing-tebing curam yang tak mungkin dipanjat. Aku segera melepaskan ikatan dan bersembunyi. Burung itu menyambar seekor ular besar dan terbang pergi."
"Lembah itu ternyata dipenuhi berlian yang berkilauan. Tetapi juga dipenuhi ular-ular raksasa yang bisa menelan gajah. Siang hari mereka bersembunyi dari burung Rukh, dan malam hari mereka keluar. Aku ketakutan setengah mati dan bersembunyi di dalam gua semalaman."
"Pagi harinya, sepotong besar daging jatuh dari atas tebing. Lalu sepotong lagi. Aku teringat cerita para saudagar: para pencari berlian melemparkan daging ke lembah ini agar berlian menempel padanya. Lalu burung-burung elang besar menyambar daging itu dan membawanya ke puncak tebing, di mana para saudagar mengusir burung itu dan mengambil berliannya."
"Aku mengisi kantong-kantongku dengan berlian terbesar. Lalu aku mengikatkan diriku ke potongan daging yang paling besar dan berbaring di bawahnya. Tak lama kemudian seekor elang menyambarnya dan membawaku terbang ke puncak tebing. Para saudagar yang datang untuk mengambil berlian terkejut melihat seorang manusia terikat pada daging!"
"Aku menceritakan kisahku kepada mereka, dan membagikan sebagian berlianku kepada saudagar yang dagingnya kupakai. Bersama mereka, aku berlayar pulang ke Baghdad sebagai orang yang lebih kaya dari sebelumnya."
Sinbad si Pelaut memberi Sinbad si Kuli seratus keping emas lagi. "Datanglah besok," katanya, "untuk mendengar pelayaranku yang ketiga, yang lebih menakjubkan lagi." Sinbad si Kuli pulang dengan kagum, belajar bahwa di balik setiap harta ada keberanian, akal, dan pertolongan Tuhan di saat yang paling genting.