Di kota Baghdad, seorang kuli angkut bernama Sinbad berhenti beristirahat di depan sebuah rumah megah. Sambil menyeka keringat, ia mengeluh keras-keras tentang nasibnya yang malang, sementara orang lain hidup mewah. Pemilik rumah mendengarnya dan mengundangnya masuk. Ternyata pemilik rumah itu juga bernama Sinbad, seorang pelaut yang sangat kaya.
"Kau mengira kekayaanku datang dengan mudah," kata Sinbad si Pelaut. "Dengarlah kisah pelayaranku yang pertama."
Ayahku meninggalkan warisan yang besar, tetapi di masa muda aku menghambur-hamburkannya untuk bersenang-senang. Ketika sadar, aku hampir tak punya apa-apa. Aku menjual sisa hartaku, membeli barang dagangan, dan ikut kapal dagang dari Basra.
Kami berlayar dari pulau ke pulau. Suatu hari kami berlabuh di sebuah pulau kecil yang hijau dan indah. Para penumpang turun, menyalakan api untuk memasak, dan bersantai. Tiba-tiba pulau itu bergetar hebat. Kapten berteriak dari kapal, "Cepat naik! Itu bukan pulau! Itu punggung ikan paus raksasa!"
Ikan paus itu terbangun karena panas api dan menyelam ke dasar laut. Banyak yang berhasil naik ke kapal, tetapi aku terlambat. Aku tercebur ke laut. Kapal berlayar menjauh, mengira aku sudah tenggelam.
Aku berpegangan pada sebuah bak kayu yang terapung, terombang-ambing semalam suntuk. Esok harinya ombak mendamparkanku di sebuah pulau. Tubuhku lemah dan kakiku bengkak. Aku merangkak, makan buah-buahan liar, dan minum dari mata air.
Beberapa hari kemudian, aku menemukan seekor kuda betina yang ditambatkan di tepi pantai. Seorang lelaki muncul dan bertanya siapa aku. Ternyata ia adalah pengurus kuda milik Raja Mihrjan, penguasa pulau itu. Ia membawaku menghadap raja.
Raja Mihrjan mendengarkan kisahku dengan penuh perhatian dan menyambutku dengan baik. Ia mengangkatku menjadi pengawas pelabuhan dan mencatat setiap kapal yang datang. Aku bekerja dengan jujur, dan raja makin memercayaiku.
Suatu hari, sebuah kapal berlabuh. Aku mencatat barang-barangnya, dan terkejut melihat nama pemilik beberapa karung: Sinbad. Itu barang-barangku sendiri! Kapal itu adalah kapal yang dulu meninggalkanku. Kapten tak percaya ketika aku mengaku sebagai Sinbad, karena ia mengira aku sudah mati. Tetapi setelah aku menceritakan detail-detail pelayaran, ia memelukku dengan gembira.
Aku menghadiahkan sebagian barangku yang berharga kepada Raja Mihrjan, dan ia membalasnya dengan hadiah yang jauh lebih banyak. Aku pulang ke Baghdad sebagai orang kaya, dan bersumpah tak akan berlayar lagi. Tapi, kawanku, sumpah itu tak bertahan lama.
Sinbad si Pelaut tersenyum dan memberi Sinbad si Kuli seratus keping emas. "Datanglah besok," katanya, "akan kuceritakan pelayaranku yang kedua." Sinbad si Kuli pulang dengan hati lapang. Ia kini mengerti bahwa di balik setiap kekayaan, ada kisah perjuangan dan bahaya yang tak terlihat.