c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
MISC

Nelayan dan Jin dalam Botol

KS
Kisah Seribu Satu Malam

Diterbitkan 9 Agustus 2026 • 3 Menit Baca

Ada seorang nelayan tua yang miskin. Setiap hari ia hanya menebar jalanya empat kali ke laut, tak lebih. Suatu hari, lemparan pertamanya hanya mendapat bangkai keledai. Lemparan kedua, sebuah tempayan berisi lumpur. Lemparan ketiga, pecahan tembikar dan kaca. Dengan berdoa, ia menebar jala untuk keempat kalinya.

Kali ini jalanya menyangkut sebuah botol tembaga yang berat, tertutup rapat dengan segel timah bercap cincin Nabi Sulaiman. "Aku akan menjualnya ke pasar tembaga," pikir nelayan itu. Tetapi ia penasaran dengan isinya. Ia mencongkel segelnya dengan pisau.

Dari mulut botol mengepul asap tebal yang membubung tinggi ke langit, lalu menggumpal menjadi sesosok jin raksasa. Kepalanya menyentuh awan, kakinya berpijak di tanah, matanya menyala seperti obor.

"Bersiaplah untuk mati, hai nelayan!" gelegar jin itu.

"Mengapa? Aku yang membebaskanmu!"

"Dengarlah kisahku," kata jin itu. "Aku memberontak kepada Nabi Sulaiman, dan beliau memenjarakanku di dalam botol ini lalu melemparkannya ke laut. Pada abad pertama, aku bersumpah akan membuat kaya siapa pun yang membebaskanku. Tak ada yang datang. Pada abad kedua, aku bersumpah akan memberikan seluruh harta bumi. Tak ada yang datang. Pada abad ketiga, aku bersumpah akan mengabulkan tiga permintaan. Tak ada juga. Maka aku murka, dan bersumpah akan membunuh siapa pun yang membebaskanku, dan hanya membiarkannya memilih cara kematiannya."

Nelayan itu gemetar, tetapi ia berpikir cepat. "Baiklah, aku akan mati. Tapi sebelum itu, jawablah satu pertanyaanku, demi Nama Yang Agung. Bagaimana mungkin makhluk sebesar dirimu bisa muat di dalam botol sekecil ini? Aku tak akan percaya sebelum melihatnya sendiri."

Jin itu tersinggung. "Kau tak percaya? Lihatlah!" Tubuhnya berubah menjadi asap dan perlahan-lahan masuk kembali ke dalam botol. Begitu asap terakhir masuk, nelayan itu segera menyumbatnya dengan segel timah.

"Sekarang pilihlah bagaimana kau ingin mati!" seru nelayan itu. "Aku akan melemparkanmu kembali ke laut, dan membangun rumah di pantai ini untuk memperingatkan setiap nelayan agar tak pernah membuka botol ini!"

Jin itu memohon-mohon dari dalam botol. "Bebaskan aku, dan aku bersumpah akan membuatmu kaya!" Setelah jin itu bersumpah demi Nama Yang Agung tak akan menyakitinya, nelayan itu membuka botol lagi.

Kali ini jin itu menepati janjinya. Ia membawa nelayan ke sebuah danau ajaib di balik gunung, yang ikan-ikannya berwarna putih, merah, biru, dan kuning. "Tangkaplah empat ekor ikan setiap hari, dan persembahkan kepada sultan," katanya, lalu menghilang.

Sultan terpesona oleh ikan-ikan berwarna itu dan memberi nelayan hadiah yang berlimpah. Ikan-ikan itu kemudian membawa sultan pada sebuah petualangan yang membebaskan sebuah kerajaan dari kutukan. Nelayan tua itu menjadi kaya, dan putrinya dinikahkan dengan sultan.

Kisah ini mengajarkan bahwa akal yang tenang bisa mengalahkan kekuatan yang paling menakutkan, dan bahwa kebaikan yang dibalas dengan kejahatan, pada akhirnya harus berhadapan dengan kecerdikan.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “The Fisherman and the Jinni” (kisah klasik Timur Tengah). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

KS

Tentang Penulis: Kisah Seribu Satu Malam

Kumpulan kisah klasik Timur Tengah yang dituturkan Syahrazad.

Lihat Semua Karya Kisah Seribu Satu Malam →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di MISC

Dua Belas Putri Penari
MISC 3 Menit Baca

Dua Belas Putri Penari

Seorang raja memiliki dua belas orang putri, yang satu lebih cantik dari yang lain. Mereka tidur bersama di sebuah kamar besar dengan dua belas ranjang berjajar. Setiap malam, raja sendiri mengunci pi...

Dua Puluh Tahun Kemudian
MISC 4 Menit Baca

Dua Puluh Tahun Kemudian

Seorang polisi berpatroli di jalanan New York dengan langkah yang gagah. Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Angin dingin bertiup, disertai gerimis, sehingga jalanan hampir kosong. Di ambang...