c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
MISC

Aladin dan Lampu Ajaib

KS
Kisah Seribu Satu Malam

Diterbitkan 7 Agustus 2026 • 3 Menit Baca

Aladin adalah anak seorang penjahit miskin. Ayahnya telah meninggal, dan ibunya bekerja keras memintal kapas untuk menghidupi mereka berdua. Aladin sendiri malas dan lebih suka bermain di jalanan.

Suatu hari seorang lelaki asing menghampirinya. Lelaki itu mengaku sebagai paman Aladin yang baru pulang dari rantau. Ia membelikan Aladin pakaian bagus dan mengajaknya jalan-jalan ke luar kota. Sebenarnya lelaki itu adalah seorang penyihir dari Afrika Utara yang sedang mencari harta karun ajaib.

Di sebuah lembah, penyihir itu membakar dupa dan membaca mantra. Tanah bergetar dan terbuka, memperlihatkan sebuah lempengan batu dengan cincin besi. "Hanya kau yang bisa masuk," kata penyihir. "Di dalam ada taman penuh buah permata. Jangan sentuh apa pun, kecuali sebuah lampu tua di ujung ruangan. Bawakan lampu itu padaku." Ia memasangkan sebuah cincin di jari Aladin sebagai pelindung.

Aladin turun dan menemukan taman yang menakjubkan. Pohon-pohon berbuah rubi, zamrud, dan mutiara. Ia mengambil lampu itu dan memenuhi sakunya dengan buah-buah permata. Ketika ia kembali ke mulut gua, penyihir itu berkata, "Berikan dulu lampunya, baru aku bantu kau keluar."

Aladin curiga dan menolak. Penyihir itu murka, membaca mantra, dan menutup gua itu. Aladin terkurung dalam gelap.

Tiga hari ia terjebak. Dalam keputusasaan, ia menggosok-gosok tangannya dan tanpa sengaja menggosok cincin di jarinya. Seketika muncul sesosok jin. "Aku hamba cincin ini. Apa perintahmu?" Aladin meminta dibawa pulang, dan dalam sekejap ia sudah di rumah.

Ibunya ingin menjual lampu tua itu untuk membeli makanan. Ketika ia menggosoknya agar tampak bersih, muncul jin yang jauh lebih besar dan lebih sakti. "Aku hamba lampu ini. Apa pun perintahmu akan kulaksanakan."

Sejak saat itu hidup Aladin berubah. Tetapi ia tak menghambur-hamburkan keajaiban itu. Ia belajar berdagang dan bergaul dengan para saudagar, sehingga menjadi pemuda yang bijak. Suatu hari ia melihat Putri Badrul Budur, putri sultan, dan jatuh cinta. Dengan bantuan jin, ia mengirimkan hadiah-hadiah luar biasa kepada sultan dan membangun istana yang megah dalam semalam. Sultan pun merestui pernikahan mereka.

Namun penyihir dari Afrika mendengar kabar itu dan tahu Aladin berhasil menguasai lampu. Ia menyamar sebagai pedagang yang berteriak di jalanan, "Tukar lampu lama dengan lampu baru!" Sang putri, yang tak tahu rahasia lampu tua di kamar suaminya, menukarnya. Penyihir itu langsung menyuruh jin memindahkan istana beserta sang putri ke Afrika.

Aladin kembali memanggil jin cincin, dan jin itu membawanya ke Afrika. Bersama sang putri, ia menyusun siasat. Putri berpura-pura ramah kepada penyihir dan menuangkan obat tidur ke dalam minumannya. Aladin mengambil kembali lampu itu, dan penyihir itu pun dikalahkan.

Istana dipindahkan kembali ke tempatnya semula. Aladin dan Putri Badrul Budur hidup bahagia, dan kelak Aladin menjadi sultan yang adil. Kisahnya mengajarkan bahwa keberuntungan hanya bermakna bila disertai kebijaksanaan, dan bahwa hal yang paling berharga sering kali tampak seperti benda tua yang tak berarti.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “Aladdin” (kisah klasik Timur Tengah). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

KS

Tentang Penulis: Kisah Seribu Satu Malam

Kumpulan kisah klasik Timur Tengah yang dituturkan Syahrazad.

Lihat Semua Karya Kisah Seribu Satu Malam →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di MISC

Hati dan Tangan
MISC 3 Menit Baca

Hati dan Tangan

Di stasiun Denver, penumpang berdesakan naik ke gerbong kereta api yang menuju ke timur. Di salah satu gerbong duduk seorang perempuan muda yang sangat cantik, berpakaian elegan, dan tampak seperti or...