Pada hari raya Nowruz, raja Persia menerima hadiah dari tiga orang ahli. Yang pertama mempersembahkan patung emas yang bisa meniup terompet bila ada musuh mendekat. Yang kedua mempersembahkan burung merak perak yang berkokok setiap jam. Yang ketiga, seorang ahli tua yang buruk rupa, mempersembahkan seekor kuda dari kayu eboni hitam dengan pelana emas. "Kuda ini bisa terbang ke mana pun Paduka inginkan," katanya.
Raja sangat terkesan dan berjanji memberikan apa pun yang diminta ketiga ahli itu. Ahli tua itu meminta putri raja sebagai istrinya. Sang putri menangis ketakutan melihat wajah lelaki tua itu.
Pangeran Kamar al-Akmar, kakak sang putri, marah. "Ayah, jangan serahkan adikku kepada lelaki itu! Biar aku menguji kuda ini dulu." Ia naik ke punggung kuda eboni itu. Ahli tua itu, yang menyimpan dendam, menunjukkan pasak untuk terbang tetapi sengaja tak memberitahukan pasak untuk turun.
Kuda eboni melesat ke angkasa, makin tinggi dan makin jauh, hingga istana tampak seperti titik kecil. Sang pangeran panik. Ia meraba-raba seluruh tubuh kuda itu hingga menemukan pasak kecil di bahu kiri. Ketika ia memutarnya, kuda itu perlahan turun.
Ia mendarat di atap sebuah istana di negeri asing ketika malam telah larut. Di dalam, ia menemukan seorang putri yang sedang tidur, putri raja San'a, yang kecantikannya bagaikan bulan purnama. Sang putri terbangun, dan keduanya berbincang sepanjang malam. Mereka saling jatuh cinta.
Ketika raja San'a menemukan pemuda asing di kamar putrinya, ia murka. Pangeran Kamar menantangnya: ia akan melawan seluruh pasukan raja seorang diri. Di tengah lapangan, ia menaiki kuda eboni dan terbang ke angkasa, meninggalkan pasukan yang tercengang.
Pangeran pulang ke Persia, tetapi hatinya tertinggal pada sang putri. Ia terbang kembali, menjemput sang putri, dan membawanya ke taman di luar kota ayahnya. Tetapi ketika ia pergi ke istana untuk mempersiapkan penyambutan, ahli tua yang buruk rupa itu menemukan sang putri dan kuda eboni. Ia menculik sang putri dan membawanya terbang ke negeri Romawi.
Di sana, raja Romawi menangkap ahli tua itu dan menahan sang putri. Untuk menghindari pernikahan dengan raja Romawi, sang putri pura-pura gila. Sementara itu, Pangeran Kamar mengembara dari negeri ke negeri mencarinya. Ketika mendengar kabar tentang putri yang gila di negeri Romawi, ia menyamar sebagai tabib.
"Aku bisa menyembuhkan sang putri," katanya kepada raja Romawi. "Tapi aku membutuhkan kuda eboni yang ia tunggangi, karena roh jahat yang merasukinya berasal dari kuda itu." Di tengah lapangan, di hadapan raja dan rakyat, pangeran menaikkan sang putri ke kuda eboni, lalu memutar pasaknya. Keduanya terbang tinggi, pulang ke Persia.
Mereka menikah dengan pesta besar, dan kuda eboni itu disimpan baik-baik agar tak lagi jatuh ke tangan orang jahat. Kisah ini mengajarkan tentang kesetiaan cinta dan kecerdikan yang tak kenal menyerah.