Di kaki Gunung Sinabung, dahulu ada sebuah desa bernama Kawar. Desa itu sangat subur, dan penduduknya hidup makmur dari hasil pertanian. Setiap tahun, setelah panen raya, mereka mengadakan pesta syukuran besar yang dihadiri seluruh warga.
Di desa itu hiduplah seorang nenek yang sudah sangat tua dan lumpuh. Ia tinggal bersama anak laki-lakinya, menantu perempuannya, dan cucu-cucunya. Karena tak bisa berjalan, nenek itu hanya bisa berbaring di rumah.
Tibalah hari pesta panen raya. Seluruh warga berkumpul di tengah desa, memasak aneka hidangan lezat, menari, dan bernyanyi. Anak, menantu, dan cucu-cucu nenek itu juga ikut berpesta dengan gembira. Mereka meninggalkan sang nenek sendirian di rumah.
Dari rumahnya, nenek itu mencium aroma masakan yang harum dan mendengar suara gembira dari tempat pesta. Perutnya lapar sekali. Ia menunggu, berharap anaknya akan datang membawakan makanan untuknya.
Menjelang sore, anaknya teringat pada ibunya. Ia menyuruh istrinya membawakan makanan. Tetapi sang menantu hanya membungkus sisa-sisa makanan: tulang-tulang dan nasi yang sudah dingin. Ia menyuruh anaknya mengantarkannya.
Nenek itu membuka bungkusan dengan gembira, tetapi yang ia temukan hanyalah tulang-tulang tanpa daging. Hatinya hancur. "Beginikah anakku membalas jasa ibunya?" ratapnya sambil menangis. "Aku yang mengandung, melahirkan, dan membesarkannya, kini diberi tulang-tulang sisa seperti anjing."
Dalam kesedihannya, nenek itu berdoa kepada Tuhan, memohon keadilan atas perlakuan anaknya.
Tiba-tiba langit menjadi gelap. Petir menyambar, guntur menggelegar, dan hujan turun sangat deras. Tanah berguncang hebat. Orang-orang di tempat pesta berlarian ketakutan, tetapi mereka tak sempat menyelamatkan diri. Tanah desa Kawar amblas, dan air memancar dari segala penjuru. Dalam waktu singkat, seluruh desa tenggelam dan berubah menjadi sebuah danau.
Danau itu kini dikenal sebagai Danau Lau Kawar, yang terletak di kaki Gunung Sinabung. Airnya tenang dan indah dikelilingi hutan. Masyarakat Karo menuturkan legenda ini sebagai pengingat keras bahwa durhaka kepada orang tua, terutama kepada ibu, adalah dosa yang sangat besar.