Putri Dewi Kilisuci dari Kerajaan Jenggala termasyhur akan kecantikannya. Banyak raja dan pangeran datang melamarnya, di antaranya dua sosok yang sakti: Mahesa Suro yang berkepala kerbau dan Lembu Suro yang berkepala sapi.
Dewi Kilisuci tak ingin menikah dengan keduanya, tetapi ia takut menolak secara terang-terangan. Mereka terlalu sakti, dan penolakan bisa berarti bencana bagi kerajaannya. Maka ia mengajukan syarat yang mustahil: dalam satu malam, mereka harus membuat dua buah sumur di puncak Gunung Kelud. Satu sumur harus berbau amis, dan satu lagi berbau wangi.
Kedua pelamar menyanggupinya. Malam itu mereka menggali dengan kekuatan luar biasa. Tanah dan batu beterbangan. Menjelang fajar, kedua sumur hampir selesai dan sangat dalam.
Dewi Kilisuci cemas. Ia pergi ke puncak dan berkata, "Aku ingin melihat sendiri apakah sumurnya benar-benar harum dan amis. Masuklah ke dalam, buktikan padaku."
Mahesa Suro dan Lembu Suro, yang ingin membuktikan kesungguhan mereka, masuk ke dasar sumur. Pada saat itulah Dewi Kilisuci memerintahkan para prajurit menimbun sumur-sumur itu dengan batu dan tanah. Kedua pelamar terkubur hidup-hidup.
Dari dalam timbunan, Lembu Suro bersumpah dengan suara menggelegar. "Ingatlah, orang-orang Kediri! Kelak akan kubalas perbuatan kalian. Kediri akan menjadi sungai, Blitar akan menjadi daratan, dan Tulungagung akan menjadi danau!"
Konon, sumpah itulah yang membuat Gunung Kelud sering meletus dan memuntahkan lahar ke daerah sekitarnya. Masyarakat di lereng Kelud kemudian menggelar upacara Larung Sesaji setiap tahun sebagai doa agar mereka diberi keselamatan.
Legenda ini menyimpan pesan yang dalam: penolakan yang disampaikan dengan tipu daya bisa melahirkan dendam yang panjang. Kejujuran, meski pahit, sering kali lebih baik daripada muslihat.