Di daerah Kampar, Riau, hiduplah seorang janda miskin bersama anak laki-lakinya yang bernama Lancang. Mereka tinggal di gubuk reyot dan bekerja sebagai buruh tani. Hidup mereka sangat sederhana, kadang untuk makan pun harus berutang.
Ketika dewasa, Lancang bertekad mengubah nasib. "Mak, izinkan aku merantau," katanya. "Aku ingin jadi orang kaya dan membahagiakan Emak."
Dengan berat hati, ibunya melepasnya. Ia membekali Lancang dengan lemang dan doa yang tak putus.
Di perantauan, Lancang bekerja keras. Ia berdagang dan menjadi saudagar kaya raya. Ia menikahi beberapa perempuan cantik dari keluarga terpandang dan memiliki kapal-kapal besar. Namun makin kaya, makin ia lupa pada asal-usulnya. Ia bahkan mengaku kepada istri-istrinya bahwa ia berasal dari keluarga bangsawan.
Suatu hari, istri-istrinya ingin berlayar ke kampung halaman Lancang. Lancang tak bisa menolak. Kapalnya yang megah, penuh ukiran dan kain sutra, berlabuh di sungai Kampar. Seluruh kampung gempar.
Kabar itu sampai ke telinga ibunya yang kini sudah tua renta. Dengan air mata bahagia, ia bergegas ke pelabuhan membawa makanan kesukaan Lancang: pisang dan lemang. Ia naik ke geladak kapal dengan pakaian lusuhnya.
"Lancang, anakku! Ini Emak, Nak!"
Istri-istri Lancang saling berpandangan. Lancang merasa malu. "Aku tak kenal perempuan ini," katanya dingin. "Usir dia dari kapalku!" Para awak kapal menyeret perempuan tua itu turun, dan makanan yang dibawanya dilempar ke sungai.
Ibunya pulang dengan hati remuk. Di gubuknya ia mengambil nyiru dan mengipasinya sambil berdoa. "Ya Tuhan, bila benar ia Lancang anakku, tunjukkanlah kuasa-Mu."
Badai datang. Ombak menggulung kapal Lancang hingga hancur berkeping-keping. Kain-kain sutranya terbang dan tersangkut di sebuah daerah yang kemudian disebut Negeri Lipat Kain. Gongnya jatuh ke daerah yang dinamai Sungai Gong. Dan Lancang lenyap bersama kesombongannya.
Kisah Si Lancang dituturkan sebagai nasihat abadi: setinggi apa pun kita terbang, jangan pernah melupakan tangan yang membesarkan kita.