c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Legenda

Asal Usul Burung Cendrawasih

CR
Cerita Rakyat Nusantara

Diterbitkan 28 Juni 2026 • 2 Menit Baca

Di pegunungan Bumberi, Fakfak, hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina. Mereka hidup berdua di tengah hutan, jauh dari kampung-kampung lain. Setiap hari mereka mencari makan bersama: buah-buahan, umbi-umbian, dan daun-daunan dari hutan.

Suatu hari, anjing itu menemukan buah pandan yang sangat harum. Ia memakannya, dan tak lama kemudian ia mengandung. Beberapa waktu kemudian, anjing itu melahirkan seekor anak anjing jantan yang mereka namai Kweiya.

Melihat anjing itu hamil, perempuan tua itu juga ingin memiliki anak. Ia memakan buah pandan yang sama, dan ajaibnya, ia pun mengandung. Ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Kweiya juga. Sejak saat itu, perempuan tua, anjing betina, dan kedua anak mereka hidup bersama dengan bahagia.

Kweiya tumbuh menjadi pemuda yang rajin. Ia membuka hutan untuk dijadikan kebun dengan kapak batu. Pekerjaannya sangat berat. Suatu hari seorang lelaki tua dari kampung lain lewat dan melihatnya. Lelaki itu memberinya kapak besi, dan kebun Kweiya cepat terbuka. Karena berterima kasih, Kweiya dan ibunya mengundang lelaki itu tinggal bersama mereka. Lelaki tua itu kemudian menikahi ibu Kweiya, dan mereka memiliki tiga anak laki-laki.

Tetapi ketiga adik tirinya iri kepada Kweiya. Mereka merasa Kweiya lebih disayang. Suatu hari, ketika orang tua mereka pergi, mereka mengeroyok dan menyakiti Kweiya.

Kweiya bersembunyi di sudut rumah. Dengan hati sedih, ia memintal benang dari kulit kayu. Benang itu ia gulung dan ia lilitkan di sekujur tubuhnya. Ketika ibunya pulang dan memanggil namanya, terdengar suara siulan dari atap rumah: "Ek, ek, ek!"

Ibunya mendongak. Di atas atap bertengger seekor burung dengan bulu yang sangat indah, berwarna-warni dengan ekor panjang yang menjuntai. Itulah Kweiya, yang telah berubah menjadi burung.

Ibunya menangis dan memohon Kweiya turun. Tetapi Kweiya tetap di atas. Karena tak ingin berpisah dari anaknya, sang ibu juga mengambil benang dan melilitkannya ke tubuhnya, dan ia pun berubah menjadi burung, dengan bulu yang lebih sederhana. Keduanya terbang ke hutan bersama.

Ketiga adik Kweiya menyesal, tetapi terlambat. Karena kaget dan takut, mereka saling melempar abu tungku, dan mereka berubah menjadi burung-burung biasa berwarna kusam.

Burung indah itulah yang kini dikenal sebagai cendrawasih, burung surga dari tanah Papua. Menurut legenda, cendrawasih jantan berbulu indah adalah Kweiya, dan betinanya yang sederhana adalah ibunya. Kisah ini mengajarkan bahwa iri hati hanya membawa penyesalan, dan bahwa kasih seorang ibu tak mengenal batas.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “Legenda Burung Cendrawasih” (Fakfak, Papua Barat). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

CR

Tentang Penulis: Cerita Rakyat Nusantara

Kisah-kisah turun-temurun dari berbagai daerah di Indonesia, diceritakan ulang oleh redaksi.

Lihat Semua Karya Cerita Rakyat Nusantara →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Legenda

Kebo Iwa
Legenda 2 Menit Baca

Kebo Iwa

Di Bali pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri. Mereka kaya, hanya saja mereka belum mempunyai anak. Suatu hari mereka pergi ke pura. Mereka memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberi keturu...