c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Legenda

Legenda Batu Golog

CR
Cerita Rakyat Nusantara

Diterbitkan 13 Juli 2026 • 2 Menit Baca

Di Padamara, Lombok, hiduplah sepasang suami istri yang miskin bernama Amaq Lembain dan Inaq Lembain. Mereka memiliki dua orang anak yang masih kecil. Setiap hari mereka bekerja sebagai buruh tani, menumbuk padi di rumah orang-orang kaya untuk mendapatkan sedikit upah.

Suatu hari, Inaq Lembain pergi menumbuk padi di desa sebelah. Karena tak ada yang menjaga anak-anaknya di rumah, ia membawa mereka ikut serta. Di halaman rumah orang yang menyewanya, ada sebuah batu ceper yang besar. Inaq Lembain mendudukkan kedua anaknya di atas batu itu. "Duduklah di sini, anak-anak. Ibu bekerja dulu. Jangan ke mana-mana."

Inaq Lembain mulai menumbuk padi dengan alu. Suara alu berdentam-dentam, dan ia bekerja dengan tekun. Tak ia sadari, batu tempat anak-anaknya duduk perlahan-lahan naik ke atas.

"Ibu, batunya naik!" teriak anak sulung. Inaq Lembain menjawab tanpa menoleh, "Jangan takut, Nak. Ibu sebentar lagi selesai." Ia mengira anak-anaknya hanya bercanda.

Batu itu terus naik. "Ibu! Batunya makin tinggi!" teriak anak-anak itu lagi. Tetapi suara alu yang berdentam membuat Inaq Lembain tak mendengar dengan jelas. Ia terus bekerja.

Ketika pekerjaannya selesai, Inaq Lembain menoleh ke arah batu. Batu itu sudah tak ada di tempatnya. Ia mendongak dan melihat batu itu telah menjulang sangat tinggi, hingga menembus awan. Suara anak-anaknya tak terdengar lagi.

Inaq Lembain menjerit dan menangis. Ia berdoa memohon pertolongan Tuhan. Doanya dijawab: ia diberi sebuah selendang sakti. Dengan selendang itu, ia memukul batu raksasa itu. Batu itu terbelah menjadi tiga bagian dan runtuh ke tiga tempat. Bagian pertama jatuh di sebuah desa yang kemudian bernama Gembong. Bagian kedua jatuh di tempat yang dinamai Dasan Batu. Bagian ketiga jatuh dan menimbulkan suara gemuruh, di tempat yang kemudian dinamai Montong Teker.

Tetapi kedua anaknya tak pernah ditemukan. Konon, keduanya berubah menjadi dua ekor burung, burung kekuwo dan burung kelik, yang terbang di sekitar tempat itu.

Masyarakat Sasak menuturkan legenda Batu Golog sebagai pengingat bagi para orang tua agar tak pernah lalai menjaga anak-anak, sesibuk apa pun pekerjaan mereka, dan agar selalu mendengarkan ketika anak-anak memanggil.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “Batu Golog” (Lombok, Nusa Tenggara Barat). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

CR

Tentang Penulis: Cerita Rakyat Nusantara

Kisah-kisah turun-temurun dari berbagai daerah di Indonesia, diceritakan ulang oleh redaksi.

Lihat Semua Karya Cerita Rakyat Nusantara →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Legenda

Talaga Warna
Legenda 4 Menit Baca

Talaga Warna

Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja. Prabu, begitulah orang memanggilnya. Ia adalah raja yang baik dan bijaksana. Tak heran, kalau negeri itu makmur...