Di tanah Parahyangan yang dahulu masih diselimuti hutan lebat, hiduplah seorang putri jelita bernama Dayang Sumbi. Ia tinggal di sebuah pondok di tepi hutan bersama putranya, Sangkuriang, dan seekor anjing setia bernama Tumang. Tak seorang pun tahu bahwa Tumang sesungguhnya adalah titisan dewa yang dikutuk, dan dialah ayah dari Sangkuriang.
Suatu hari Dayang Sumbi ingin makan hati rusa. Sangkuriang yang sudah pandai berburu berangkat ke hutan ditemani Tumang. Seharian mereka berjalan, namun tak seekor rusa pun tampak. Sangkuriang yang kesal menyuruh Tumang mengejar seekor babi hutan, tetapi anjing itu diam saja. Babi hutan itu, kata orang tua-tua, adalah Wayung Hyang, nenek Sangkuriang sendiri.
Amarah membutakan mata anak muda itu. Ia membunuh Tumang, mengambil hatinya, lalu membawanya pulang seolah-olah hati rusa. Dayang Sumbi memasaknya dengan gembira. Namun ketika ia bertanya ke mana Tumang pergi, Sangkuriang tak sanggup menyembunyikan kebenaran.
Dayang Sumbi murka. Tanpa berpikir panjang ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi dari tempurung kelapa hingga meninggalkan luka. Sangkuriang lari meninggalkan rumah dan tak pernah kembali. Sejak hari itu Dayang Sumbi hidup dalam sesal, berdoa siang dan malam hingga para dewa menganugerahinya kecantikan yang tak lekang oleh usia.
Tahun demi tahun berlalu. Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda gagah yang sakti. Dalam pengembaraannya ia tiba di sebuah pondok di tepi hutan dan bertemu seorang perempuan yang kecantikannya membuat hatinya berdebar. Mereka saling jatuh cinta dan berjanji akan menikah.
Suatu sore, saat Dayang Sumbi merapikan ikat kepala calon suaminya, ia melihat bekas luka di kepala pemuda itu. Tubuhnya gemetar. Luka itu adalah luka yang dulu ia buat sendiri. Pemuda di hadapannya adalah anaknya.
Dayang Sumbi berusaha membatalkan pernikahan, tetapi Sangkuriang tak mau mendengar. Maka Dayang Sumbi mengajukan syarat yang mustahil: dalam satu malam, sebelum fajar menyingsing, Sangkuriang harus membendung Sungai Citarum menjadi danau dan membuat sebuah perahu besar untuk berlayar di atasnya.
Sangkuriang menyanggupinya. Dengan bantuan para makhluk halus, ia menebang pohon, membendung sungai, dan membentuk perahu raksasa. Menjelang tengah malam, pekerjaan itu hampir rampung. Dayang Sumbi cemas. Ia lalu membentangkan kain putih di ufuk timur dan meminta para perempuan desa menumbuk padi. Ayam-ayam jantan berkokok, mengira pagi telah tiba.
Para makhluk halus lari ketakutan. Sangkuriang sadar ia telah gagal. Dalam amarah yang meluap, ia menendang perahu yang hampir jadi itu hingga terlempar dan jatuh tertelungkup. Perahu itulah yang kini kita kenal sebagai Gunung Tangkuban Parahu, dan bendungan yang ia buat menjadi danau purba yang kelak mengering menjadi dataran Bandung.
Orang tua di Parahyangan masih menuturkan kisah ini kepada anak-anak mereka: bahwa amarah yang tak dikendalikan dapat menghancurkan apa yang kita bangun dengan susah payah, dan bahwa kebenaran, sekalipun lama tersembunyi, akan menemukan jalannya pulang.