Pada suatu pagi musim panas, seorang penjahit kecil duduk di meja kerjanya di dekat jendela, menjahit dengan gembira. Ia membeli selai dari seorang pedagang keliling dan mengolesnya di atas roti. Tetapi sebelum ia sempat memakannya, lalat-lalat berdatangan dan mengerubungi roti itu.
Penjahit kecil itu kesal. Ia mengambil sehelai kain dan memukul lalat-lalat itu. Ketika ia mengangkat kainnya, ia menghitung: tujuh ekor lalat mati sekaligus!
"Hebat sekali aku!" serunya dengan bangga. "Seluruh kota harus tahu tentang ini!" Ia menjahit sebuah ikat pinggang dan menyulam kata-kata besar di atasnya: "Tujuh Sekali Pukul!" Lalu ia berpikir, "Bukan hanya kota, seluruh dunia harus tahu!" Ia mengenakan ikat pinggang itu dan berangkat mengembara.
Di sebuah gunung, ia bertemu seorang raksasa. Raksasa itu membaca tulisan "Tujuh Sekali Pukul" dan mengira penjahit itu membunuh tujuh orang sekaligus. Meski begitu, ia ingin menguji. Ia memeras sebongkah batu hingga keluar air. "Coba kau lakukan itu!" tantangnya.
Penjahit kecil mengeluarkan sepotong keju lunak dari sakunya dan memerasnya hingga air keju menetes. "Itu mudah," katanya. Raksasa terheran-heran. Ia lalu melempar batu tinggi sekali. Penjahit kecil melempar seekor burung yang ia simpan di saku, dan burung itu terbang tinggi tak kembali. "Batuku bahkan tak jatuh lagi," katanya.
Raksasa mengajaknya menginap di gua para raksasa. Penjahit kecil merasa ranjangnya terlalu besar, sehingga ia tidur di sudut. Tengah malam, raksasa itu memukul ranjang dengan tongkat besi untuk membunuhnya. Pagi harinya, para raksasa melihat penjahit kecil segar bugar, dan mereka lari ketakutan.
Penjahit kecil tiba di sebuah istana. Raja mendengar tentang pahlawan "Tujuh Sekali Pukul" dan memberinya tugas: mengalahkan dua raksasa yang meneror kerajaan. Imbalannya, ia akan menikahi putri raja dan mendapat separuh kerajaan.
Penjahit kecil menemukan kedua raksasa itu sedang tidur di bawah pohon. Ia memanjat pohon dan menjatuhkan batu-batu ke dada salah satu raksasa. Raksasa itu terbangun dan menuduh temannya memukulnya. Mereka bertengkar. Penjahit kecil menjatuhkan batu lagi, dan pertengkaran berubah menjadi perkelahian hebat, hingga keduanya tumbang.
Raja masih memberinya tugas lain: menangkap seekor unicorn dan seekor babi hutan yang ganas. Dengan akal, penjahit kecil membuat unicorn menancapkan tanduknya ke pohon, dan menjebak babi hutan di dalam sebuah kapel.
Akhirnya penjahit kecil menikahi sang putri dan menjadi raja. Suatu malam, sang ratu mendengar suaminya mengigau, "Nak, jahitlah jas ini, atau kupukul kau dengan penggaris!" Ia sadar suaminya hanyalah seorang penjahit. Ia menyuruh pengawal menangkapnya malam berikutnya. Tetapi penjahit kecil yang pura-pura tidur berseru keras, "Aku telah memukul tujuh sekaligus, membunuh dua raksasa, menangkap unicorn dan babi hutan! Masa aku takut pada orang-orang di balik pintu?" Para pengawal lari ketakutan.
Sejak itu tak ada yang berani mengganggunya, dan penjahit kecil tetap menjadi raja seumur hidupnya. Dongeng jenaka ini mengajarkan bahwa kepercayaan diri dan akal cerdik bisa membawa seseorang sangat jauh.