c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Humor

Para Pemusik dari Kota Bremen

GB
Grimm Bersaudara

Diterbitkan 23 Juli 2026 • 2 Menit Baca

Seekor keledai telah bertahun-tahun mengangkut karung gandum untuk tuannya. Kini ia sudah tua dan tenaganya melemah. Tuannya berniat menyingkirkannya. Keledai itu mencium gelagat buruk dan memutuskan kabur. "Aku akan pergi ke kota Bremen," katanya. "Di sana aku bisa menjadi pemusik."

Di tengah jalan, ia bertemu seekor anjing tua yang terengah-engah. "Tuanku mau menyingkirkanku karena aku sudah tak bisa berburu," keluh anjing itu. "Ikutlah denganku ke Bremen," kata keledai. "Aku akan main kecapi, kau pukul gendang."

Tak lama kemudian mereka bertemu seekor kucing tua bermuka murung. "Nyonyaku mau menenggelamkanku karena aku lebih suka duduk di dekat tungku daripada menangkap tikus." Keledai mengajaknya bergabung. "Kau kan pandai bernyanyi di malam hari."

Lalu mereka melewati sebuah peternakan, tempat seekor ayam jago berkokok sekuat tenaga. "Besok ada tamu, dan aku akan dijadikan sup," katanya sedih. "Ikutlah dengan kami," ajak keledai. "Suaramu bagus sekali."

Keempat binatang itu berjalan bersama. Menjelang malam mereka tiba di hutan. Ayam jago terbang ke puncak pohon dan melihat cahaya dari kejauhan. Ternyata itu rumah yang dihuni sekawanan perampok. Melalui jendela, mereka melihat para perampok sedang berpesta dengan makanan berlimpah.

Mereka menyusun rencana. Keledai berdiri dengan kaki depan di ambang jendela. Anjing naik ke punggung keledai. Kucing naik ke punggung anjing. Dan ayam jago terbang ke kepala kucing. Lalu, atas aba-aba keledai, mereka mulai "bermain musik": keledai meringkik, anjing menggonggong, kucing mengeong, dan ayam berkokok, semuanya bersamaan. Kemudian mereka menerobos jendela dengan suara pecahan kaca yang memekakkan.

Para perampok mengira ada hantu yang menyerang. Mereka lari terbirit-birit ke dalam hutan. Keempat sahabat itu makan sepuasnya, lalu tidur di tempat yang paling nyaman bagi masing-masing.

Tengah malam, seorang perampok dikirim kembali untuk memeriksa. Dalam gelap, ia melihat mata kucing berkilat dan mengira itu bara api. Ia mendekatkan korek api, dan kucing mencakar wajahnya. Ia lari ke pintu, anjing menggigit kakinya. Di halaman, keledai menendangnya. Dan dari atap, ayam jago berkokok nyaring.

Perampok itu lari pontang-panting. "Di dalam ada penyihir yang mencakarku, ada lelaki dengan pisau yang menusuk kakiku, ada raksasa yang memukulku dengan gada, dan di atap ada hakim yang berteriak, 'Bawa bajingan itu kemari!'"

Para perampok tak pernah berani kembali. Keempat pemusik itu akhirnya tak pernah sampai ke Bremen. Mereka terlalu betah tinggal di rumah itu, hidup bahagia bersama di masa tua mereka.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “Die Bremer Stadtmusikanten” karya Grimm Bersaudara (Kinder- und Hausmärchen, Jerman, 1819). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

GB

Tentang Penulis: Grimm Bersaudara

Jacob (1785–1863) dan Wilhelm Grimm (1786–1859), pengumpul dongeng rakyat Jerman.

Lihat Semua Karya Grimm Bersaudara →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Humor

HRD
Humor 2 Menit Baca

HRD

Suatu hari, si Doel, ingin meminta tambahan gaji.. dikarenakan dia merasa pekerjaan2 yang dilakukannya sangat-lah berat. Maka dia mengirim lampiran pada manajer HRd.. berikut pesan-nya... Bersama deng...

Hantu Canterville
Humor 3 Menit Baca

Hantu Canterville

Ketika Tuan Hiram B. Otis, seorang menteri Amerika, membeli Istana Canterville di Inggris, semua orang memperingatkannya bahwa istana itu berhantu. Bahkan Lord Canterville sendiri, sang pemilik lama,...

Kematian Seorang Pegawai
Humor 3 Menit Baca

Kematian Seorang Pegawai

Pada suatu malam yang indah, seorang pegawai kecil bernama Ivan Dmitrich Chervyakov duduk di barisan kedua sebuah gedung teater. Ia menonton opera dengan teropong mungil dan merasa sebagai orang palin...