Kaisar Akbar dari India sangat suka menguji kecerdikan menterinya yang bernama Birbal. Suatu pagi, ketika mereka berjalan-jalan di taman istana, Akbar melihat banyak burung gagak bertengger di pepohonan dan atap-atap bangunan.
Akbar mendapat ide untuk menguji Birbal. "Birbal," katanya, "berapa banyak burung gagak yang ada di kota ini?"
Para bangsawan yang mengiringi mereka saling berbisik. Mana mungkin ada yang bisa menghitung semua burung gagak di kota sebesar itu?
Birbal diam sejenak, lalu menjawab dengan tenang, "Ada sembilan puluh lima ribu empat ratus enam puluh tiga ekor burung gagak di kota ini, Paduka."
Akbar terkejut dengan jawaban yang begitu pasti. "Bagaimana kau bisa yakin? Bagaimana kalau aku menyuruh orang menghitungnya, dan ternyata jumlahnya berbeda?"
Birbal tersenyum. "Kalau jumlahnya lebih sedikit, Paduka, itu artinya sebagian burung gagak sedang pergi mengunjungi saudara-saudara mereka di kota lain. Dan kalau jumlahnya lebih banyak, itu artinya ada burung gagak dari kota lain yang sedang datang berkunjung ke saudara-saudara mereka di kota ini."
Akbar tertawa terbahak-bahak. Para bangsawan pun ikut tertawa, meski ada yang diam-diam kesal karena Birbal lagi-lagi lolos dari ujian sang kaisar.
"Birbal, Birbal," kata Akbar sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tak pernah bisa menjebakmu."
Hari itu Birbal pulang dengan hadiah dari kaisar. Tetapi keesokan harinya, Akbar mengajukan pertanyaan baru. "Birbal, berapa jumlah bintang di langit?"
Birbal meminta sekantong biji sesawi, lalu menumpahkannya di atas meja. "Sebanyak butir-butir sesawi ini, Paduka. Silakan Paduka hitung sendiri."
Kisah-kisah Akbar dan Birbal dituturkan di India selama berabad-abad dan sampai juga ke Nusantara. Kisah-kisah itu mengajarkan bahwa pertanyaan yang tak mungkin dijawab dengan pasti kadang paling baik dijawab dengan akal sehat dan sedikit humor.