Nasreddin Hoja adalah seorang guru yang dihormati di kotanya, meski tingkahnya sering membuat orang geleng-geleng kepala. Suatu hari ia hendak pergi ke masjid di kota sebelah untuk mengajar. Murid-muridnya berjalan kaki mengiringinya, sementara ia menaiki keledainya.
Orang-orang yang berpapasan dengan rombongan itu tertawa terpingkal-pingkal. Pasalnya, Nasreddin duduk terbalik di atas keledainya, menghadap ke ekor keledai, bukan ke kepalanya.
"Hoja!" seru seorang pedagang. "Kau duduk terbalik! Apa kau tak tahu cara menunggang keledai?"
Murid-muridnya pun merasa malu. Salah seorang memberanikan diri bertanya. "Guru, mengapa Guru duduk terbalik seperti itu? Orang-orang menertawakan kita."
Nasreddin tersenyum dengan sabar. "Anak-anakku, pikirkanlah baik-baik. Kalau aku duduk menghadap ke depan, punggungku akan menghadap kalian yang berjalan di belakang. Itu tidak sopan bagi seorang guru terhadap murid-muridnya. Kalau kalian berjalan di depanku, punggung kalian akan menghadapku, dan itu tidak sopan bagi murid terhadap gurunya."
Ia menepuk-nepuk leher keledainya yang kini berada di belakangnya. "Karena itu, satu-satunya cara agar kita semua tetap sopan adalah aku duduk seperti ini. Kalian berjalan di belakang keledai, dan aku tetap bisa menatap wajah kalian sambil berbincang sepanjang jalan."
Murid-muridnya terdiam, lalu mengangguk-angguk. Masuk akal juga.
Sepanjang perjalanan, Nasreddin mengajari mereka tentang ilmu dan kehidupan, sambil menatap wajah mereka satu per satu. Orang-orang di jalan masih tertawa, tetapi Nasreddin tak peduli.
Sesampainya di masjid, seorang murid bertanya lagi. "Guru, tapi bagaimana Guru tahu jalannya, kalau Guru tak melihat ke depan?"
Nasreddin tertawa. "Aku memang tak tahu jalannya. Tapi keledai ini tahu. Dan kalian juga tahu. Lagi pula, seorang guru yang baik tak perlu selalu berjalan di depan. Kadang ia cukup memastikan bahwa murid-muridnya berjalan di jalan yang benar."
Kisah Nasreddin yang menunggang keledai terbalik menjadi salah satu gambaran paling terkenal tentang dirinya. Kisah ini mengajarkan bahwa kadang sesuatu yang tampak bodoh di mata orang banyak justru memiliki alasan yang bijak, bila kita mau bertanya dan mendengarkan.