Suatu hari Sultan Harun Ar-Rasyid bermimpi tentang sebuah istana yang melayang di atas awan. Istana itu begitu indah sehingga ketika bangun, Sultan sangat menginginkannya. Seperti biasa, ia memanggil Abu Nawas.
"Abu Nawas," titah Sultan, "bangunkan untukku sebuah istana di atas awan. Kuberi waktu satu bulan. Bila berhasil, kau akan mendapat hadiah besar. Bila gagal, kau akan dihukum."
Para menteri tersenyum. Kali ini pasti Abu Nawas tak akan lolos.
Abu Nawas pulang dan berpikir berhari-hari. Lalu ia mulai sibuk. Ia pergi ke pasar dan membeli banyak benang, kertas, dan bambu. Ia mengumpulkan anak-anak kampung dan mengajari mereka membuat layang-layang yang sangat besar. Di atas layang-layang itu, ia melukis gambar sebuah istana yang megah, dengan kubah, menara, dan jendela-jendela berwarna.
Ia juga mengumpulkan beberapa ekor burung beo dan melatih mereka mengucapkan kalimat-kalimat tertentu setiap hari.
Satu bulan kemudian, Abu Nawas menghadap Sultan. "Paduka, istana Paduka sudah siap. Silakan Paduka keluar ke halaman."
Sultan dan para menteri keluar. Abu Nawas memberi isyarat, dan anak-anak kampung menerbangkan layang-layang raksasa itu. Layang-layang itu naik tinggi hingga menyentuh awan. Dari bawah, tampaklah sebuah istana yang megah melayang di antara awan-awan putih.
"Itulah istana Paduka," kata Abu Nawas sambil membungkuk.
Sultan menatap ke atas dengan takjub bercampur geli. "Itu hanya gambar di layang-layang, Abu Nawas!"
"Istana itu memang sudah jadi, Paduka," jawab Abu Nawas. "Hanya saja, para tukang masih bekerja di atas sana. Dengarlah." Pada saat itu, burung-burung beo yang ia sembunyikan di atas layang-layang berteriak-teriak, "Kirim bata! Kirim semen! Kirim kayu!"
Abu Nawas melanjutkan dengan wajah serius, "Hamba sudah membangun istananya, Paduka. Sekarang tugas Paduka mengirimkan bahan-bahan bangunan ke atas sana, karena para tukang sudah memintanya. Hamba tak punya tangga yang cukup tinggi."
Sultan terdiam, lalu tertawa terbahak-bahak. Para menteri pun ikut tertawa. "Kau menang lagi, Abu Nawas! Aku tak bisa mengirim bata ke awan, jadi aku tak bisa menyalahkanmu."
Abu Nawas pulang membawa hadiah. Kisah ini mengingatkan kita dengan jenaka bahwa perintah yang mustahil pantas dijawab dengan kecerdikan yang sama mustahilnya.