Si Kabayan terkenal sebagai lelaki paling pemalas di kampungnya. Tetapi di balik kemalasannya, ia punya akal yang tak kalah dari siapa pun. Mertuanya sering kesal padanya karena ia lebih suka tidur di bawah pohon daripada bekerja di sawah.
Suatu hari mertuanya menyuruhnya memetik nangka yang sudah matang di kebun di seberang sungai. "Kabayan, pohon nangka kita sudah berbuah. Petiklah yang paling besar dan bawa pulang. Kita makan bersama nanti sore."
Kabayan berangkat dengan malas-malasan. Ia menyeberangi sungai, memanjat pohon nangka, dan memetik buah yang paling besar. Tetapi ketika ia turun, ia berpikir, "Aduh, berat sekali nangka ini. Bagaimana aku membawanya menyeberangi sungai?"
Ia duduk di tepi sungai sambil berpikir. Tiba-tiba ia tersenyum. "Nangka ini kan bisa mengapung. Air sungai mengalir ke arah kampung. Kalau kuhanyutkan, nangka ini pasti sampai di rumah lebih dulu dariku."
Maka ia melemparkan nangka itu ke sungai. "Pulanglah duluan, ya," katanya. "Nanti aku menyusul." Nangka itu mengapung dan hanyut terbawa arus.
Kabayan pulang dengan santai, bahkan sempat tidur siang sebentar di bawah pohon. Sesampainya di rumah, mertuanya bertanya, "Mana nangkanya, Kabayan?"
"Lho, belum sampai?" tanya Kabayan heran. "Tadi sudah kusuruh pulang duluan lewat sungai. Barangkali ia mampir dulu."
Mertuanya membelalakkan mata. "Kau hanyutkan nangka itu di sungai? Dasar bodoh! Nangka mana bisa pulang sendiri!"
Kabayan menggaruk-garuk kepala. "Ah, nangka itu memang tak tahu diri. Sudah kupetik baik-baik, kuberi jalan yang mudah, eh, malah kabur."
Mereka berlari ke hilir sungai. Tentu saja nangka itu sudah hanyut jauh sekali, mungkin sudah dipungut orang di kampung lain.
Malam itu mereka tak jadi makan nangka. Mertuanya mengomel sepanjang malam. Kabayan hanya tersenyum sambil memandang bulan. "Besok," katanya, "aku akan memetik nangka lagi. Tapi kali ini akan kuajari dulu jalan pulang."
Kisah Si Kabayan selalu mengundang tawa orang Sunda dari generasi ke generasi. Ia mengingatkan kita dengan jenaka bahwa jalan pintas yang terlalu enak sering kali justru membawa kita kehilangan segalanya.