Suatu hari Nasreddin Hoja diundang ke sebuah pesta pernikahan di rumah seorang saudagar kaya. Karena baru pulang dari ladang, ia datang dengan pakaian kerjanya yang lusuh dan berdebu.
Tak seorang pun menyambutnya. Para tamu lain yang berpakaian mewah dipersilakan duduk di tempat terhormat dan dilayani dengan hidangan lezat. Nasreddin dibiarkan berdiri di sudut ruangan. Tak ada yang menawarinya makanan, bahkan segelas air pun tidak.
Nasreddin diam-diam keluar, pulang ke rumahnya, dan mengenakan jubahnya yang paling bagus: jubah sutra dengan bordir emas dan sorban yang megah. Lalu ia kembali ke pesta itu.
Kali ini tuan rumah sendiri menyambutnya di pintu. "Selamat datang, Tuan! Silakan, silakan duduk di sini!" Ia dipersilakan duduk di tempat yang paling terhormat, dan pelayan-pelayan bergegas menghidangkan sup, nasi, daging panggang, dan manisan.
Nasreddin mengambil semangkuk sup dan, dengan penuh kesungguhan, menuangkannya ke lengan jubahnya. Lalu ia mengambil sepotong daging dan menyelipkannya ke dalam saku jubah. "Makanlah, jubahku, makanlah," katanya pelan.
Para tamu terperangah. Tuan rumah buru-buru mendekat. "Hoja! Apa yang Anda lakukan?"
Nasreddin menatapnya dengan tenang. "Tadi saya datang dengan pakaian lusuh, dan tak seorang pun menawari saya makan. Sekarang saya datang dengan jubah ini, dan saya disambut seperti raja. Jelas bahwa yang Anda undang bukan saya, melainkan jubah saya. Jadi sudah sepantasnya jubah inilah yang makan."
Ruangan itu hening. Tuan rumah menunduk malu, dan para tamu yang tadi mengabaikan Nasreddin pun tak berani menatapnya. Setelah itu tuan rumah meminta maaf dengan tulus, dan Nasreddin, yang memang tak pendendam, tertawa dan makan bersama mereka.
Kisah Nasreddin ini dikenal dari Turki hingga Asia Tengah. Ia mengingatkan kita agar tak menilai seseorang dari pakaiannya, sebab kehormatan manusia tak terletak pada kain yang dikenakannya.