Di sebuah dusun di tepi hutan Minangkabau, hiduplah seorang pemuda bernama Malin Deman bersama ibunya yang sudah tua. Mereka hidup sederhana dari hasil ladang yang tak seberapa luas.
Suatu malam, Malin Deman bermimpi didatangi seorang kakek berjubah putih. "Pergilah ke telaga di tengah hutan saat bulan purnama," kata kakek itu. "Di sana kau akan menemukan jodohmu."
Malin Deman menuruti mimpinya. Di tepi telaga, ia melihat tujuh bidadari sedang mandi. Selendang-selendang mereka tergantung di dahan. Ia mengambil selendang milik bidadari yang paling muda, lalu bersembunyi. Ketika saudari-saudarinya terbang pulang, bidadari bungsu itu tertinggal sambil menangis. Namanya Puti Bungsu.
Malin Deman menghampirinya dan menawarkan tempat berlindung. Puti Bungsu tak punya pilihan. Ia ikut ke rumah Malin Deman, dan setelah beberapa waktu, keduanya menikah. Ibu Malin Deman sangat menyayangi menantunya. Tak lama kemudian lahirlah seorang putra yang mereka namai Sutan Duano.
Tetapi setelah menikah, Malin Deman berubah. Ia mulai malas bekerja dan gemar menyabung ayam serta berjudi di kedai-kedai. Ia sering pulang larut malam, bahkan tak pulang berhari-hari. Puti Bungsu menanggung semuanya dengan sabar sambil mengasuh anaknya seorang diri.
Suatu hari, ibu Malin Deman jatuh sakit dan meninggal. Sebelum wafat, ia membisikkan sesuatu kepada menantunya: letak selendang yang dulu disembunyikan Malin Deman, di dalam bumbung bambu di loteng rumah.
Puti Bungsu menemukan selendangnya. Hatinya bimbang. Ia mencintai anaknya, tetapi ia tak sanggup lagi hidup dengan suami yang tak peduli. Ketika Malin Deman pulang dan melihat istrinya mengenakan selendang itu, barulah ia sadar dan berlutut memohon.
"Aku sudah terlalu lama menunggumu berubah," kata Puti Bungsu lembut. "Jagalah anak kita baik-baik."
Puti Bungsu terbang ke kahyangan. Malin Deman menangis menyesali semua waktu yang ia sia-siakan. Sejak hari itu ia berhenti berjudi, bekerja keras di ladang, dan membesarkan Sutan Duano dengan penuh kasih. Setiap malam bulan purnama, ia duduk di halaman bersama anaknya, memandang langit, dan menceritakan tentang ibunya yang cantik di antara bintang-bintang.
Kisah Malin Deman mengingatkan bahwa kebahagiaan yang kita miliki harus dijaga, bukan disia-siakan, sebab yang pergi tak selalu bisa kembali.