Pada zaman dahulu, di dataran tinggi Minahasa, berdiri dua kerajaan yang dipimpin oleh dua orang raja. Raja di bagian selatan memiliki seorang putri yang cantik bernama Marimbouw. Raja di bagian utara memiliki seorang putra yang gagah bernama Maharimbouw.
Raja di selatan sangat menyayangi putrinya. Ia ingin Marimbouw kelak menggantikannya. Karena itu ia mendidik putrinya seperti mendidik seorang lelaki: berburu, berkuda, dan memimpin. Ia juga melarang putrinya menikah, karena takut kerajaannya akan jatuh ke tangan orang lain.
Suatu hari, Marimbouw berburu di hutan dengan pakaian lelaki. Di tengah hutan ia bertemu Maharimbouw yang juga sedang berburu. Keduanya bersaing mengejar seekor rusa, lalu saling berkenalan. Maharimbouw mengira Marimbouw adalah seorang pemuda, dan mereka menjadi sahabat.
Mereka sering berburu bersama. Lama-kelamaan Maharimbouw mulai curiga dengan kehalusan tutur kata sahabatnya. Suatu hari, ketika mereka beristirahat di tepi sungai, ikat kepala Marimbouw terlepas dan rambutnya yang panjang terurai. Rahasianya terbongkar. Maharimbouw terkejut, lalu tersenyum. Sejak lama diam-diam ia sudah menyukai sahabatnya itu.
Keduanya jatuh cinta dan berjanji untuk menikah. Tetapi mereka tahu, raja di selatan tak akan pernah merestuinya. Maka mereka menikah secara diam-diam di tengah hutan, tanpa restu orang tua dan tanpa upacara adat.
Mereka membangun rumah di sebuah lembah dan hidup bahagia. Tetapi hati Marimbouw tak pernah tenang. Ia merasa telah mengkhianati sumpah dan kepercayaan ayahnya. Setiap malam ia bermimpi buruk.
Suatu hari, ketika mereka sedang berada di rumah di tengah lembah, bumi bergetar hebat. Gunung meletus, dan dari perut bumi memancar air yang sangat banyak. Hujan turun tak henti-henti. Lembah itu perlahan terendam air, dan Marimbouw serta Maharimbouw tenggelam bersama rumah mereka.
Lembah itu berubah menjadi sebuah danau yang luas dan indah, yang kemudian dinamai Danau Tondano. Masyarakat Minahasa percaya bahwa danau itu terbentuk karena pelanggaran sumpah kepada orang tua dan adat.
Legenda Danau Tondano mengajarkan tentang pentingnya kejujuran kepada orang tua, dan bahwa kebahagiaan yang dibangun dengan melanggar sumpah akan selalu dihantui kegelisahan.