Pada zaman dahulu, di tanah Banjar berdirilah Kerajaan Negara Dipa yang dipimpin Lambung Mangkurat. Ia adalah pemimpin yang arif, tetapi ia gundah karena kerajaan itu belum memiliki raja yang berdarah luhur. Rakyat mendambakan seorang pemimpin yang bisa menyatukan mereka.
Lambung Mangkurat pun bertapa di atas rakit di Sungai Tabalong. Ia berdoa selama empat puluh hari empat puluh malam. Pada malam terakhir, sungai bergolak. Dari dalam gumpalan buih yang putih bersih, muncullah seorang bayi perempuan yang bercahaya.
Bayi itu berbicara dengan suara jernih. "Aku akan menjadi ratu kalian," katanya. "Tetapi buatkanlah untukku sebuah istana yang harus selesai dalam satu hari, dikerjakan oleh empat puluh orang. Dan tenunkan untukku selembar kain yang juga harus selesai dalam satu hari, oleh empat puluh gadis perawan."
Lambung Mangkurat mengumpulkan rakyatnya. Dengan semangat gotong royong, empat puluh lelaki membangun istana dan empat puluh gadis menenun kain dari pagi hingga senja. Keduanya selesai tepat ketika matahari tenggelam.
Sang bayi mengenakan kain itu dan naik ke istana. Ia tumbuh menjadi putri yang sangat cantik dan bijaksana, dan dinamai Putri Junjung Buih, sang putri yang muncul dari junjungan buih. Namun untuk memerintah, ia membutuhkan pendamping.
Lambung Mangkurat kembali bertapa. Kali ini ia diberi petunjuk untuk mencari seorang pangeran dari Majapahit bernama Raden Putra, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Suryanata. Sang pangeran pun datang, dan ia juga muncul secara ajaib, dari pusaran air di sungai.
Putri Junjung Buih dan Pangeran Suryanata menikah dalam upacara yang agung. Keduanya memerintah Negara Dipa dengan adil, dan dari keturunan merekalah lahir raja-raja Banjar di kemudian hari.
Legenda ini dituturkan masyarakat Banjar sebagai kisah asal-usul mereka, sekaligus pengingat bahwa kerajaan yang kuat dibangun di atas doa, kesabaran, dan kerja bersama seluruh rakyatnya.