Di sebuah desa di Tanah Karo, hiduplah sepasang suami istri dengan dua anak mereka: seorang anak laki-laki bernama Tare Iluh dan seorang anak perempuan bernama Beru Sibou. Keluarga itu miskin, tetapi mereka saling menyayangi.
Ketika Tare Iluh dan Beru Sibou masih kecil, kedua orang tua mereka meninggal karena sakit. Kakak beradik itu kemudian diasuh oleh bibi mereka. Tare Iluh tumbuh dewasa dan memutuskan merantau untuk mencari nafkah. "Aku akan kembali membawa uang, dan kita akan hidup lebih baik," janjinya kepada adiknya.
Bertahun-tahun berlalu. Tare Iluh tak pernah kembali. Beru Sibou menunggu dengan cemas. Akhirnya ia mendengar kabar bahwa kakaknya terlilit utang karena berjudi dan ditahan oleh orang yang menagihnya di kampung seberang.
Beru Sibou bertekad membebaskan kakaknya. Ia tak punya apa-apa, tetapi ia punya suara yang sangat merdu. Ia berkeliling dari kampung ke kampung, bernyanyi dan menanyakan keberadaan kakaknya. Perjalanan itu panjang dan melelahkan. Kakinya luka, tubuhnya kurus, tetapi ia tak menyerah.
Akhirnya ia menemukan kampung tempat kakaknya ditahan. Tetapi ia terlambat. Tare Iluh telah meninggal dunia karena sakit dan kesedihan dalam tahanan.
Beru Sibou jatuh terduduk di tanah. Ia menangis tersedu-sedu. Ia telah kehilangan orang tua, dan kini kakaknya, satu-satunya keluarga yang tersisa. Dalam dukanya, ia naik ke sebuah bukit dan berdoa kepada Tuhan.
"Ya Tuhan, jadikanlah aku sesuatu yang berguna bagi banyak orang. Biarlah air mataku menjadi air yang bisa diminum, rambutku menjadi ijuk yang bisa dipakai, dan tubuhku menjadi pohon yang memberi manfaat."
Doanya dikabulkan. Tubuh Beru Sibou perlahan berubah menjadi sebatang pohon enau yang tinggi. Air matanya menjadi nira yang manis, rambutnya menjadi ijuk yang kuat untuk atap dan tali, dan buahnya menjadi kolang-kaling.
Masyarakat Karo sangat menghargai pohon enau. Konon, para penyadap nira dahulu menyanyikan lagu ratapan ketika menyadap, agar pohon enau mau mengeluarkan niranya. Nyanyian itu dipercaya menghibur Beru Sibou yang masih berduka atas kakaknya. Kisah ini mengajarkan tentang kasih sayang saudara yang tulus, dan tentang kesedihan yang bisa diubah menjadi kebaikan bagi banyak orang.