Di tepi sebuah sungai yang lebar, tumbuhlah sebatang pohon jambu yang buahnya sangat manis. Di pohon itu tinggal seekor monyet yang ramah dan cerdik. Setiap hari ia memanjat dahan-dahannya dan menikmati buah jambu yang ranum.
Suatu hari seekor buaya berenang mendekat dan beristirahat di bawah pohon itu. "Hai, Buaya," sapa monyet. "Kau pasti lelah. Mau mencoba buah jambuku?" Ia melemparkan beberapa buah ke air. Buaya memakannya dan sangat menyukainya.
Sejak hari itu, buaya datang setiap hari. Monyet selalu melemparkan buah jambu untuknya, dan mereka berbincang lama tentang banyak hal. Mereka menjadi sahabat yang akrab. Buaya bahkan membawa pulang sebagian buah jambu untuk istrinya.
Istri buaya menyukai buah jambu itu, tetapi ia punya pikiran yang jahat. "Kalau buahnya saja semanis ini," katanya, "bayangkan betapa manisnya hati monyet yang setiap hari memakannya. Aku ingin memakan hati monyet itu. Bawalah ia kemari."
Buaya terkejut. "Tapi ia sahabatku!"
"Kalau kau benar-benar menyayangiku, kau akan membawanya," desak istrinya sambil pura-pura sakit. "Hanya hati monyet yang bisa menyembuhkanku."
Dengan berat hati, buaya menuruti istrinya. Esok harinya ia berkata kepada monyet, "Sahabatku, istriku ingin sekali bertemu denganmu dan berterima kasih atas buah jambu yang kau berikan. Naiklah ke punggungku, aku akan membawamu ke rumahku di seberang sungai."
Monyet senang diundang. Ia melompat ke punggung buaya, dan mereka mulai menyeberang. Di tengah sungai, ketika air sudah sangat dalam, buaya merasa bersalah dan berkata jujur. "Maafkan aku, sahabatku. Sebenarnya istriku ingin memakan hatimu."
Monyet ketakutan setengah mati. Tetapi ia tak menunjukkannya. Ia berpikir cepat, lalu berkata dengan tenang, "Oh, kenapa tidak bilang dari tadi? Aku dengan senang hati akan memberikan hatiku untuk istrimu. Tapi sayang sekali, aku meninggalkan hatiku di pohon jambu. Kami para monyet selalu menyimpan hati kami di pohon agar tidak basah. Ayo kita kembali, akan kuambilkan."
Buaya yang bodoh percaya. Ia berbalik dan berenang kembali ke pohon jambu. Begitu sampai di tepi sungai, monyet melompat secepat kilat ke dahan tertinggi.
"Buaya yang bodoh!" serunya dari atas. "Mana ada makhluk yang bisa hidup tanpa hatinya? Hatiku ada di dalam dadaku, dan akan tetap di sana. Persahabatan kita sudah berakhir. Pulanglah kepada istrimu, dan katakan padanya bahwa tak ada hati yang bisa didapat dengan pengkhianatan."
Buaya berenang pulang dengan malu. Ia kehilangan sahabat terbaiknya dan buah jambu yang manis untuk selamanya.
Kisah ini dituturkan di India sejak ribuan tahun lalu, dan menyebar hingga ke Nusantara. Ia mengajarkan bahwa ketenangan dan akal sehat bisa menyelamatkan kita dari bahaya, dan bahwa persahabatan yang dikhianati tak mudah dipulihkan.