c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Renungan

Menyalakan Api

JL
Jack London

Diterbitkan 22 September 2026 • 4 Menit Baca

Hari sudah pagi ketika lelaki itu meninggalkan jalan setapak utama di Yukon dan mendaki tebing menuju sebuah jalan kecil yang jarang dilalui. Hari itu dingin dan kelabu. Meski tak ada awan di langit, matahari tak terlihat. Sudah berhari-hari matahari tak muncul. Salju dan es sejauh mata memandang.

Lelaki itu tak terganggu oleh semua itu. Ia pendatang baru di wilayah itu, dan ini musim dingin pertamanya di sana. Masalahnya, ia tak punya imajinasi. Ia cepat dan waspada terhadap hal-hal di sekitarnya, tetapi hanya pada hal-hal itu sendiri, bukan pada maknanya. Suhu lima puluh derajat di bawah nol baginya hanyalah dingin yang tak nyaman. Ia tak membayangkan betapa rapuhnya manusia di hadapan dingin seperti itu.

Seekor anjing husky besar berjalan di belakangnya. Anjing itu gelisah. Nalurinya memberitahu bahwa cuaca ini terlalu dingin untuk bepergian. Anjing itu tahu bahwa ini saatnya meringkuk di dalam lubang salju dan menunggu cuaca membaik. Tetapi lelaki itu terus berjalan.

Lelaki itu meludah. Ludahnya berderak di udara sebelum jatuh ke salju. Ia tahu itu berarti suhunya jauh di bawah lima puluh derajat. Tapi ia tak peduli. Ia akan tiba di perkemahan kawan-kawannya pukul enam sore.

Seorang lelaki tua dari Sulphur Creek pernah memperingatkannya: "Jangan pernah bepergian sendirian di Klondike bila suhu di bawah lima puluh derajat." Lelaki itu tertawa ketika mendengarnya. Orang-orang tua memang terlalu berhati-hati, pikirnya.

Ia berjalan menyusuri sungai yang membeku. Ia tahu bahaya di sungai itu: ada mata air yang tak pernah membeku, tersembunyi di bawah lapisan salju. Bila seseorang terperosok ke dalamnya, meski hanya sampai pergelangan kaki, kakinya akan basah, dan di suhu seperti ini, kaki basah bisa berarti kematian.

Siang hari, ia berhenti untuk makan dan menyalakan api kecil. Ia menghangatkan diri, lalu melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, hal yang ia takutkan terjadi. Salju di bawah kakinya ambles, dan ia terperosok ke dalam air hingga setengah betis.

Ia mengumpat. Ia harus segera menyalakan api untuk mengeringkan kaos kaki dan sepatunya. Ia menemukan tumpukan ranting di bawah sebatang pohon cemara. Dengan hati-hati, ia menyalakan api. Api itu berhasil! Ia mulai melepas tali sepatunya yang sudah membeku.

Tetapi ia melakukan kesalahan. Ia menyalakan api di bawah pohon cemara yang dahan-dahannya penuh salju. Setiap kali ia mengambil ranting dari pohon itu, dahannya bergoyang sedikit. Lalu, tanpa peringatan, salju di dahan paling atas runtuh, menimpa dahan di bawahnya, dan seterusnya, hingga segunung salju jatuh tepat di atas apinya. Api itu padam.

Lelaki itu terduduk. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut. Mungkin lelaki tua dari Sulphur Creek itu benar. Kalau saja ia punya teman seperjalanan, temannya bisa menyalakan api untuknya.

Ia mencoba menyalakan api lagi. Tetapi jari-jarinya sudah mati rasa. Ia tak bisa merasakan korek api di tangannya. Ia menjatuhkan korek-korek itu ke salju. Ia mencoba memungutnya, tetapi jari-jarinya tak mau menurut. Akhirnya ia menjepit seluruh ikat korek api di antara kedua telapak tangannya dan menggoreskannya ke kakinya. Tujuh puluh batang korek api menyala bersamaan. Ia mendekatkannya ke ranting-ranting. Tetapi tangannya gemetar hebat, dan api kecil itu tercerai-berai dan padam.

Ia menatap anjingnya. Terlintas di benaknya untuk membunuh anjing itu dan menghangatkan tangannya di dalam tubuhnya. Ia memanggil anjing itu dengan suara ketakutan. Anjing itu merasakan bahaya dalam suaranya dan menjauh. Lelaki itu menyadari tangannya bahkan tak bisa lagi memegang pisau.

Ia berlari. Ia berlari sekuat tenaga, berharap darahnya mengalir dan menghangatkan tubuhnya. Tetapi kakinya tak bisa merasakan tanah. Ia jatuh, bangkit lagi, jatuh lagi. Akhirnya ia duduk di salju, lelah. Ia merasa tenang. Kantuk yang nyaman menyelimutinya. Ia membayangkan kawan-kawannya menemukan tubuhnya esok hari. "Lelaki tua itu benar," gumamnya.

Anjing itu duduk menunggu di dekatnya. Ketika senja tiba dan tak ada tanda-tanda api dinyalakan, anjing itu mendekat dan mencium bau kematian. Ia melolong panjang di bawah bintang-bintang yang dingin, lalu berlari menyusuri jalan setapak menuju perkemahan, di mana ada manusia-manusia lain yang bisa memberinya makan dan api.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “To Build a Fire” karya Jack London (Amerika Serikat, 1908). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

JL

Tentang Penulis: Jack London

Penulis dan petualang Amerika (1876–1916).

Lihat Semua Karya Jack London →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Renungan

Taruhan
Renungan 3 Menit Baca

Taruhan

Pada suatu malam musim gugur yang gelap, seorang bankir tua mondar-mandir di ruang kerjanya, mengenang sebuah pesta yang ia adakan lima belas tahun yang lalu. Pesta itu dihadiri banyak orang pandai, d...

Kisah 1000 Kelereng
Renungan 4 Menit Baca

Kisah 1000 Kelereng

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja....