c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Renungan

Tiga Pertanyaan Sang Raja

LT
Leo Tolstoy

Diterbitkan 11 Agustus 2026 • 3 Menit Baca

Seorang raja pernah berpikir bahwa bila ia tahu tiga hal, ia tak akan pernah gagal dalam urusan apa pun. Pertama, kapan waktu yang paling tepat untuk melakukan sesuatu. Kedua, siapa orang yang paling penting untuk diperhatikan. Ketiga, apa hal yang paling penting untuk dilakukan.

Ia mengumumkan hadiah besar bagi siapa pun yang bisa menjawab ketiga pertanyaan itu. Para cendekiawan berdatangan, tetapi jawaban mereka berbeda-beda. Ada yang bilang raja harus membuat jadwal. Ada yang bilang ia harus mendengarkan dewan penasihat. Ada yang bilang orang terpenting adalah para dokter, atau para pendeta, atau para prajurit. Ada yang bilang hal terpenting adalah ilmu pengetahuan, atau seni berperang, atau ibadah.

Raja tak puas. Ia memutuskan menemui seorang pertapa yang terkenal bijaksana. Pertapa itu tinggal di hutan dan hanya mau menerima orang biasa. Maka raja berpakaian sederhana, meninggalkan pengawalnya, dan pergi sendirian.

Ketika raja tiba, pertapa itu sedang mencangkul kebun di depan gubuknya. Ia tampak lemah dan napasnya tersengal-sengal. Raja menyampaikan ketiga pertanyaannya. Pertapa itu tak menjawab, dan terus mencangkul.

"Kau lelah," kata raja. "Biar aku yang mencangkul." Pertapa itu menyerahkan cangkulnya. Raja mencangkul dua bedeng, lalu mengulangi pertanyaannya. Pertapa itu tetap tak menjawab. Raja terus mencangkul hingga matahari mulai terbenam.

"Aku datang untuk mencari jawaban," kata raja akhirnya. "Bila kau tak bisa menjawab, katakan saja, dan aku akan pulang."

"Ada yang berlari ke sini," kata pertapa itu.

Seorang lelaki berjanggut berlari keluar dari hutan sambil memegangi perutnya yang berdarah. Ia jatuh pingsan di depan mereka. Raja dan pertapa segera membuka bajunya. Lukanya besar. Raja membasuh dan membalut luka itu dengan sapu tangannya, lalu dengan kain-kain lain ketika darah terus merembes. Ia memberi lelaki itu minum dan membaringkannya di dalam gubuk. Raja begitu lelah sehingga ia tertidur di ambang pintu.

Esok paginya, lelaki berjanggut itu menatap raja dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku," bisiknya.

"Aku tak mengenalmu, dan tak ada yang perlu dimaafkan," jawab raja.

"Kau tak mengenalku, tetapi aku mengenalmu. Aku musuhmu. Kau telah menghukum mati saudaraku dan merampas hartanya. Aku bersumpah membalas dendam. Kemarin aku menunggumu di jalan pulang untuk membunuhmu. Ketika kau tak juga kembali, aku keluar dari persembunyian dan bertemu para pengawalmu. Mereka mengenaliku dan melukaiku. Aku melarikan diri, dan kau menyelamatkan nyawaku. Kini aku bersumpah akan menjadi abdimu yang paling setia."

Raja sangat gembira bisa berdamai dengan musuhnya. Ia berjanji akan mengirim tabibnya dan mengembalikan harta lelaki itu.

Sebelum pulang, raja kembali meminta jawaban dari sang pertapa.

"Kau sudah mendapatkan jawabannya," kata pertapa itu. "Seandainya kemarin kau tak merasa kasihan padaku dan tak mencangkul untukku, kau akan pulang dan lelaki itu akan menyerangmu. Jadi waktu yang paling penting adalah ketika kau mencangkul, orang yang paling penting adalah aku, dan hal yang paling penting adalah berbuat baik kepadaku. Lalu ketika lelaki itu datang, waktu yang paling penting adalah ketika kau merawatnya, orang yang paling penting adalah dia, dan hal yang paling penting adalah menolongnya."

"Ingatlah," lanjut pertapa itu. "Hanya ada satu waktu yang penting, yaitu sekarang, karena hanya saat inilah kita punya kuasa. Orang yang paling penting adalah orang yang sedang bersamamu, sebab tak ada yang tahu apakah kau akan bertemu orang lain lagi. Dan hal yang paling penting adalah berbuat baik kepadanya, sebab untuk itulah manusia diutus ke dunia."

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “Три вопроса (The Three Questions)” karya Leo Tolstoy (Rusia, 1885). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

LT

Tentang Penulis: Leo Tolstoy

Sastrawan besar Rusia (1828–1910).

Lihat Semua Karya Leo Tolstoy →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Renungan