c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Renungan

Burung Bulbul Sang Kaisar

HC
Hans Christian Andersen

Diterbitkan 2 Agustus 2026 • 3 Menit Baca

Di negeri Tiongkok, kaisar tinggal di istana porselen yang paling indah di dunia. Tamannya begitu luas hingga tukang kebunnya sendiri tak tahu di mana ujungnya. Di hutan di ujung taman itu, di dekat laut, tinggallah seekor burung bulbul yang nyanyiannya sangat merdu. Para nelayan miskin berhenti menarik jala untuk mendengarkannya.

Para pelancong dari seluruh dunia menulis buku tentang istana dan taman kaisar, tetapi semua sepakat: yang terindah adalah burung bulbul. Kaisar membaca buku-buku itu dan terheran-heran. "Ada burung seperti itu di kerajaanku, dan aku tak pernah mendengarnya?"

Para bangsawan tak ada yang tahu. Akhirnya seorang gadis dapur yang miskin mengantar mereka ke hutan. Burung bulbul itu ternyata burung kecil berwarna kelabu yang sederhana. Tetapi ketika ia bernyanyi di istana, air mata mengalir di pipi kaisar. Burung bulbul itu menolak hadiah apa pun. "Air mata Paduka adalah hadiah terbesar bagiku," katanya.

Burung bulbul itu pun tinggal di istana, di dalam sangkar emas, dan diajak berjalan-jalan dengan dua belas pelayan yang memegang pita sutra di kakinya.

Suatu hari, kaisar menerima hadiah dari Kaisar Jepang: seekor burung bulbul mekanik bertatahkan intan, rubi, dan safir. Bila diputar, burung mainan itu menyanyikan satu lagu sambil menggoyangkan ekornya yang berkilauan. Semua orang terpukau. Burung mainan itu bisa bernyanyi tiga puluh tiga kali tanpa lelah, selalu dengan nada yang sama persis.

Tak ada yang sadar ketika burung bulbul yang asli terbang keluar jendela, kembali ke hutan hijaunya. Kaisar sempat kesal, tetapi segera lupa. Burung mekanik diletakkan di atas bantal sutra di samping ranjangnya.

Lima tahun kemudian, kaisar jatuh sakit parah. Ia terbaring pucat di ranjangnya, dan Maut duduk di dadanya, memakai mahkotanya. Wajah-wajah aneh bermunculan dari balik tirai: perbuatan-perbuatan baik dan buruk yang pernah ia lakukan, berbisik-bisik mengingatkannya.

"Musik! Musik!" seru kaisar. "Burung emasku, bernyanyilah!" Tetapi burung mekanik itu diam saja. Tak ada yang memutarnya, dan pernnya sudah aus.

Tiba-tiba, dari jendela terdengar nyanyian yang paling indah. Burung bulbul yang asli telah mendengar kabar sakitnya kaisar dan datang untuk menghiburnya. Ia bernyanyi tentang kuburan yang sunyi tempat mawar putih tumbuh, tentang rumput yang basah oleh air mata. Maut mendengarkan, dan mulai merindukan kebunnya sendiri. Perlahan ia melayang keluar jendela seperti kabut yang dingin.

"Terima kasih," bisik kaisar. "Aku telah mengusirmu, tetapi kau kembali dan mengusir Maut dari dadaku. Bagaimana aku bisa membalasmu?"

"Paduka sudah membalasnya," kata burung bulbul. "Aku melihat air mata Paduka saat pertama kali aku bernyanyi. Aku tak akan melupakannya. Aku akan datang setiap malam dan bernyanyi di jendela ini. Aku akan bernyanyi tentang orang-orang yang bahagia dan yang menderita, tentang kebaikan dan kejahatan yang disembunyikan dari Paduka."

Esok paginya para pelayan masuk untuk melihat kaisar yang mereka kira sudah wafat. Kaisar berdiri tegak dan berkata, "Selamat pagi!"

Kisah ini mengingatkan bahwa keindahan yang hidup dan tulus tak bisa digantikan oleh tiruan yang berkilauan, dan bahwa sahabat sejati datang justru ketika kita sedang paling rapuh.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “Nattergalen” karya Hans Christian Andersen (Denmark, 1843). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

HC

Tentang Penulis: Hans Christian Andersen

Penulis dongeng asal Denmark (1805–1875).

Lihat Semua Karya Hans Christian Andersen →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Renungan

Raksasa yang Egois
Renungan 3 Menit Baca

Raksasa yang Egois

Setiap sore sepulang sekolah, anak-anak suka bermain di taman seorang raksasa. Tamannya luas dan indah, dengan rumput yang hijau lembut. Dua belas pohon persik berbunga merah muda di musim semi dan be...

Seutas Tali
Renungan 3 Menit Baca

Seutas Tali

Hari pasar di kota kecil Goderville, Normandia. Dari segala penjuru desa, para petani berdatangan dengan gerobak dan ternak mereka. Maître Hauchecorne, seorang petani tua dari Bréauté yang hemat dan c...