Di sebuah desa di pegunungan Jepang, hiduplah seorang kakek yang baik hati bersama istrinya yang pemarah dan serakah. Suatu hari, kakek menemukan seekor burung pipit yang terluka di hutan. Ia membawanya pulang, merawatnya, dan memberinya makan. Burung pipit itu sembuh dan menjadi sahabat kakek. Setiap hari mereka bernyanyi bersama.
Nenek tak suka pada burung pipit itu. Suatu hari, ketika kakek pergi ke gunung, nenek membuat bubur kanji untuk mengkanji pakaian. Burung pipit yang lapar mematuk-matuk bubur kanji itu. Nenek murka. Dengan gunting, ia memotong lidah burung pipit itu dan mengusirnya dari rumah.
Ketika kakek pulang dan mendengar apa yang terjadi, ia sangat sedih. Esok harinya ia masuk ke hutan mencari sahabatnya. "Burung pipit, burung pipit, di mana kau?" panggilnya berulang-ulang.
Setelah lama berjalan, ia tiba di sebuah rumah yang indah di tengah hutan bambu. Burung pipit itu keluar menyambutnya bersama keluarganya. Lidahnya sudah sembuh. Mereka menjamu kakek dengan makanan lezat, menari, dan bernyanyi untuknya.
Ketika kakek hendak pulang, burung pipit memberinya pilihan hadiah: sebuah keranjang besar atau sebuah keranjang kecil. "Aku sudah tua," kata kakek. "Aku pilih yang kecil saja, supaya tak terlalu berat."
Sesampainya di rumah, ia membuka keranjang kecil itu. Isinya emas, perak, permata, dan kain sutra yang indah. Kakek sangat gembira.
Nenek yang serakah langsung berpikir, "Kalau keranjang kecil saja isinya sebanyak ini, keranjang besar pasti isinya lebih banyak lagi!" Ia bergegas ke hutan dan menemukan rumah burung pipit. Ia tak meminta maaf atas perbuatannya, melainkan langsung menuntut hadiah. Burung pipit memberinya pilihan yang sama. Tentu saja nenek memilih keranjang yang besar.
Keranjang itu sangat berat. Burung pipit berpesan, "Jangan buka sebelum sampai di rumah." Tetapi nenek tak sabar. Di tengah jalan, ia membukanya. Dari dalam keranjang keluar ular, lipan, kalajengking, dan hantu-hantu yang menakutkan. Nenek menjerit dan lari terbirit-birit pulang.
Sejak hari itu nenek menyesali sifatnya yang kejam dan serakah. Kisah Shita-kiri Suzume adalah salah satu dongeng paling terkenal di Jepang. Ia mengajarkan bahwa kerendahan hati dan kasih sayang akan membawa berkah, sedangkan keserakahan justru membawa malapetaka.