Kepala kantor pos itu mulai bekerja di desa Ulapur. Desa itu kecil dan terpencil. Di dekatnya ada pabrik nila milik orang Inggris, dan pemilik pabrik itulah yang mengusahakan adanya kantor pos di sana.
Kepala kantor pos itu berasal dari Kolkata. Di desa itu, ia merasa seperti ikan yang dikeluarkan dari air. Kantornya berada di sebuah gubuk gelap beratap ilalang, dikelilingi kolam hijau berlumut dan hutan. Para pegawai pabrik nila sibuk dan tak ada yang cocok diajak berteman dengan orang kota sepertinya.
Gajinya kecil. Ia memasak sendiri. Seorang gadis yatim piatu di desa itu, Ratan, yang berumur dua belas atau tiga belas tahun, membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan imbalan sedikit makanan.
Pada malam hari, ketika asap mengepul dari kandang-kandang sapi di desa, ketika jangkrik berbunyi di semak-semak, dan ketika para petani mabuk menyanyikan lagu-lagu mereka, kepala kantor pos itu duduk di beranda dan memanggil, "Ratan!" Ratan yang duduk di luar pintu menunggu panggilan itu, langsung masuk. "Ya, Tuan?"
Mereka mulai bercakap-cakap. Kepala kantor pos bercerita tentang keluarganya di Kolkata, tentang ibunya, kakak perempuannya, dan adik laki-lakinya, tentang orang-orang yang sangat ia rindukan di pengasingan ini. Ratan mendengarkan, dan lama-kelamaan ia pun mengenal ibu dan saudara-saudara kepala kantor pos seolah mereka keluarganya sendiri. Ia berbicara tentang mereka dengan akrab, "Ibu", "Kakak", seolah ia sudah mengenal mereka seumur hidupnya.
Suatu siang yang hujan, kepala kantor pos merasa kesepian. Ia memanggil Ratan. "Ratan, aku akan mengajarimu membaca." Sejak hari itu, setiap sore ia mengajari Ratan huruf-huruf, dan Ratan belajar dengan tekun.
Pada musim hujan, kepala kantor pos jatuh sakit demam. Ia terbaring lemah, dan sangat merindukan tangan lembut ibunya atau kakaknya. Ratan tak lagi menjadi gadis kecil. Ia menjadi seorang ibu. Ia memanggil tabib, memberinya obat, menjaganya sepanjang malam, memasakkan bubur, dan berkali-kali bertanya, "Tuan, apakah sudah lebih baik?"
Beberapa hari kemudian kepala kantor pos sembuh. Tetapi ia sudah tak tahan lagi tinggal di desa itu. Ia mengajukan permohonan pindah ke Kolkata dengan alasan kesehatan. Permohonannya ditolak, dan ia memutuskan mengundurkan diri.
Ketika ia memberi tahu Ratan bahwa ia akan pergi esok hari, Ratan terdiam lama. Lalu ia bertanya pelan, "Tuan, maukah Tuan membawa saya pulang?"
Kepala kantor pos tertawa. "Bagaimana mungkin?" Ia tak memikirkan betapa pertanyaan itu penting bagi Ratan.
Sepanjang malam, dalam tidur dan jaganya, suara tawa kepala kantor pos terus terngiang di telinga Ratan: "Bagaimana mungkin?"
Esok paginya, kepala kantor pos mendapati air untuk mandinya sudah disiapkan, seperti biasa. Ia memanggil Ratan. "Ratan, jangan khawatir. Aku akan berpesan kepada kepala kantor pos yang baru untuk memperhatikanmu." Ratan, yang selama ini tak pernah dimarahi dan tak pernah menangis di hadapannya, tiba-tiba menangis tersedu-sedu. "Tidak, tidak, Tuan tak perlu berpesan apa-apa. Saya tak mau tinggal di sini lagi."
Kepala kantor pos memberinya hampir seluruh gajinya. Ratan menolaknya, dan berlari pergi.
Kepala kantor pos naik perahu. Sungai sedang meluap, dan airnya mengalir deras. Hatinya terasa berat. Ia merasa ingin kembali dan menjemput gadis kecil yatim piatu itu. Tetapi angin sudah mengembangkan layar, dan perahu sudah melaju ke tengah sungai. Ia menghibur dirinya dengan filsafat: dunia ini penuh perpisahan, dan kematian adalah perpisahan yang terakhir. Tak ada gunanya kembali.
Tetapi Ratan tak punya filsafat seperti itu. Ia berkeliaran di sekitar kantor pos dengan mata berlinang, dengan harapan samar bahwa kepala kantor pos akan kembali. Ah, hati manusia yang malang dan tak berakal. Ia tak pernah mau menerima kenyataan yang terang benderang, dan terus berpegang pada harapan yang palsu, sampai harapan itu merobek hatinya dan terbang pergi.