Kami tinggal di Le Havre dan tidak kaya. Ayahku bekerja sebagai pegawai kantor, pulang larut malam, dan gajinya tak seberapa. Aku punya dua orang kakak perempuan. Ibuku sangat menderita karena kemiskinan kami, dan sering melontarkan kata-kata pedas kepada ayahku. Kami selalu berhemat. Kami tak pernah menerima undangan makan malam karena takut harus membalasnya.
Setiap hari Minggu, kami berjalan-jalan di dermaga dengan pakaian terbaik kami. Ayahku, dengan jas panjang, topi tinggi, dan sarung tangan, menggandeng ibuku yang berdandan seperti kapal di hari raya. Kedua kakakku berjalan di depan. Dan setiap hari Minggu, ketika melihat kapal-kapal besar datang dari negeri-negeri jauh, ayahku selalu mengucapkan kalimat yang sama: "Ah, seandainya Jules ada di kapal itu. Alangkah kagetnya kita!"
Paman Jules, adik ayahku, adalah satu-satunya harapan keluarga kami. Dulu ia dianggap sampah keluarga. Ia menghambur-hamburkan warisannya dan bahkan sebagian warisan ayahku. Ia dikirim ke Amerika, seperti yang biasa dilakukan pada anggota keluarga yang memalukan. Tetapi tak lama kemudian, datang surat darinya. Ia sudah bekerja dan mendapat uang, dan berharap bisa mengganti kerugian ayahku. Dua tahun kemudian datang surat kedua: "Aku akan pergi ke Amerika Selatan untuk urusan bisnis. Aku sudah kaya. Aku tak akan menulis lagi dalam waktu lama, tapi jangan khawatir. Aku akan pulang setelah kaya raya, dan kita akan hidup bahagia bersama."
Surat itu menjadi kitab suci keluarga kami. Dibaca berulang-ulang dan dipamerkan kepada semua orang. Paman Jules yang dulu dianggap aib kini menjadi lelaki baik hati, lelaki yang berhasil. Sudah sepuluh tahun tak ada kabar lagi, tetapi harapan ayahku makin besar dari tahun ke tahun.
Kakak perempuanku yang sulung akhirnya dilamar oleh seorang pegawai. Kami yakin surat Paman Jules yang diperlihatkan kepadanya ikut membuatnya memutuskan melamar. Untuk merayakannya, keluarga kami berlibur ke Pulau Jersey. Perjalanan singkat dengan kapal, sebuah kemewahan yang luar biasa bagi kami.
Di atas kapal, ayahku melihat seorang lelaki tua berpakaian compang-camping sedang membuka tiram untuk para penumpang kaya. Ayahku ingin mentraktir kakak-kakakku dan calon menantunya tiram, untuk menunjukkan bahwa kami juga orang terhormat. Ketika ia kembali, wajahnya pucat pasi.
"Aneh sekali," bisiknya kepada ibuku. "Penjual tiram itu sangat mirip Jules."
Ibuku bertanya kepada kapten kapal, yang bercerita, "Oh, itu gelandangan tua dari Le Havre. Ia pulang dari Amerika dalam keadaan miskin. Katanya ia punya keluarga di Le Havre, tapi tak mau kembali ke mereka karena berutang pada mereka. Namanya Jules... Jules Darmanche atau Darvanche, sesuatu seperti itu."
Ayahku memucat, matanya melotot. "Itu dia," bisiknya. "Apa yang harus kita lakukan?"
Ibuku marah besar. "Aku sudah tahu, pencuri itu tak akan pernah berguna! Jangan sampai calon menantu kita tahu! Kita harus menjauh dari dia sebelum ia mengenali kita!"
Ibuku menyuruhku membayar tiram itu. Aku menghampiri lelaki tua itu. Aku menatap wajahnya yang keriput, tangannya yang kasar, dan pakaiannya yang lusuh. Aku berkata dalam hati, "Ini pamanku. Saudara kandung ayahku." Aku memberinya uang tiram, dan menambahkan sepuluh sen sebagai tip. Ia berterima kasih dengan nada suara orang miskin yang menerima sedekah: "Tuhan memberkatimu, Tuan muda."
Ibuku memarahiku karena memberinya tip.
Dalam perjalanan pulang, kami sengaja naik kapal lain agar tak bertemu dengannya lagi. Aku tak pernah melihat adik ayahku lagi. Dan itulah sebabnya, sampai sekarang, bila aku melihat seorang pengemis tua, aku selalu memberinya sedekah.