Inspektur polisi Ochumelov berjalan melintasi alun-alun pasar dengan mantel barunya, diikuti seorang polisi berambut merah yang membawa ayakan penuh buah gooseberry sitaan. Suasana sepi. Tiba-tiba terdengar teriakan.
"Kau menggigitku, anjing sialan! Tangkap dia! Jangan biarkan lolos!"
Seekor anak anjing berlari dengan tiga kaki keluar dari gudang kayu. Di belakangnya, Khryukin, seorang tukang emas, mengejar dan menangkap kaki belakang anjing itu. Kerumunan orang segera berkumpul.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Ochumelov dengan berwibawa.
Khryukin mengangkat jarinya yang berdarah. "Saya sedang berjalan baik-baik, Tuan, tak mengganggu siapa-siapa, lalu anjing ini menggigit jari saya. Saya ini pekerja, Tuan. Pekerjaan saya halus. Saya harus mendapat ganti rugi, karena mungkin seminggu saya tak bisa bekerja."
"Hmm, baik," kata Ochumelov tegas. "Anjing siapa ini? Aku tak akan membiarkan masalah ini begitu saja. Orang-orang yang membiarkan anjing berkeliaran harus dihukum! Pemiliknya akan didenda, dan anjing ini harus dibunuh segera!"
"Sepertinya ini anjing Jenderal Zhigalov," celetuk seseorang dari kerumunan.
"Jenderal Zhigalov?" Ochumelov terdiam. "Hmm... Eldyrin, tolong bukakan mantelku, panas sekali. Mungkin mau hujan." Ia berpaling kepada Khryukin. "Tapi aku tak mengerti satu hal. Bagaimana anjing sekecil ini bisa menggigitmu? Ia kan tak sampai setinggi jarimu. Pasti jarimu tertusuk paku, lalu kau berniat memeras orang. Aku tahu tipe orang sepertimu!"
"Dia menyundutkan rokok ke hidung anjing itu, Tuan, untuk bercanda," kata seseorang. "Anjingnya tidak bodoh, jadi dia menggigit."
"Bohong!" seru Khryukin.
Polisi berambut merah itu mengamati anjing itu. "Bukan, ini bukan anjing Jenderal. Anjing Jenderal besar-besar dan berbulu tebal. Ini anjing kampung."
"Kau yakin?" Ochumelov langsung mengubah nada. "Tentu saja! Anjing Jenderal itu mahal, keturunan murni. Ini apa? Bulunya jelek, rupanya menjijikkan. Mana mungkin Jenderal memelihara anjing seperti ini! Khryukin, kau jangan diam saja. Kau yang dirugikan. Anjing ini harus diberi pelajaran!"
"Tapi mungkin juga anjing Jenderal," kata polisi itu ragu. "Kemarin saya lihat anjing seperti ini di halaman rumahnya."
"Oh... Eldyrin, pakaikan kembali mantelku. Anginnya dingin. Bawa anjing ini ke rumah Jenderal dan tanyakan. Katakan aku yang menemukannya. Dan katakan agar tak dibiarkan keluar. Mungkin anjing ini mahal, dan kalau setiap babi menyundutkan rokok ke hidungnya, bisa rusak. Anjing itu makhluk yang lembut. Dan kau, bodoh, turunkan tanganmu! Jangan pamerkan jarimu yang bodoh itu!"
Kebetulan juru masak Jenderal lewat. "Prokhor! Apakah ini anjing kalian?"
"Bukan. Kami tak pernah punya anjing seperti ini."
"Nah! Sudah jelas. Anjing kampung! Bunuh saja, habis perkara!"
"Ini bukan anjing kami," lanjut Prokhor, "tapi anjing adik Jenderal yang baru datang dari Petersburg. Beliau sangat suka anjing ras."
"Adik Jenderal? Vladimir Ivanich datang?" Wajah Ochumelov berseri-seri penuh kasih. "Astaga, aku tak tahu! Jadi ini anjingnya? Senang sekali. Bawalah dia. Anjing yang lucu. Pintar sekali, menggigit jari orang ini! Ha-ha-ha! Kenapa gemetar, sayang? Rrr... si nakal, marah ya?"
Prokhor memanggil anjing itu dan pergi. Kerumunan menertawakan Khryukin. "Awas kau nanti!" ancam Ochumelov kepadanya, merapikan mantelnya, lalu melanjutkan patrolinya di alun-alun pasar.