Di sebuah desa nelayan di pesisir Jepang, hiduplah seorang pemuda baik hati bernama Urashima Taro. Ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua, dan setiap hari ia pergi melaut untuk menangkap ikan.
Suatu sore, ketika pulang dari laut, ia melihat sekelompok anak sedang menyiksa seekor kura-kura kecil di pantai. Mereka memukulinya dengan tongkat dan membalik-baliknya. "Hentikan!" seru Taro. "Kura-kura itu juga makhluk hidup!" Ia memberi anak-anak itu beberapa keping uang agar mereka melepaskannya, lalu dengan lembut mengembalikan kura-kura itu ke laut.
Beberapa hari kemudian, ketika Taro sedang memancing di perahunya, terdengar suara memanggil namanya. Seekor kura-kura besar muncul di samping perahu. "Taro-san, aku kura-kura yang kau selamatkan. Aku ingin membalas kebaikanmu. Naiklah ke punggungku, aku akan membawamu ke Ryugu-jo, istana naga di dasar laut."
Taro ragu, tetapi rasa penasarannya mengalahkannya. Ia naik ke punggung kura-kura itu, dan mereka menyelam ke kedalaman laut. Anehnya, Taro bisa bernapas dengan leluasa. Ikan-ikan berwarna-warni berenang di sekelilingnya, dan cahaya biru lembut memenuhi air.
Tak lama kemudian tampaklah sebuah istana yang sangat megah, terbuat dari karang dan mutiara, dengan atap berkilau seperti pelangi. Di gerbangnya berdiri Putri Otohime yang sangat cantik. "Selamat datang, Urashima Taro," katanya sambil tersenyum. "Kura-kura yang kau selamatkan sebenarnya adalah aku. Tinggallah di sini sebagai tamuku."
Taro disambut dengan pesta yang meriah. Ikan-ikan menari, gurita memainkan musik, dan hidangan-hidangan lezat tak habis-habisnya. Putri Otohime mengajaknya berkeliling istana. Di setiap sisi istana ada jendela yang memperlihatkan empat musim: bunga sakura musim semi, hijau musim panas, merah musim gugur, dan putih salju musim dingin.
Hari-hari berlalu dengan sangat bahagia. Taro lupa waktu. Tetapi suatu hari ia teringat ibunya yang sudah tua. "Putri, aku harus pulang. Ibuku pasti mencemaskanku."
Putri Otohime sedih, tetapi tak menahannya. Ia memberikan sebuah kotak kecil berpernis yang diikat pita sutra. "Ini tamatebako, kotak perhiasan. Bawalah sebagai kenang-kenangan. Tetapi ingat, jangan pernah membukanya, apa pun yang terjadi."
Kura-kura mengantarnya kembali ke pantai desanya. Tetapi Taro terkejut. Desanya tampak sangat berbeda. Rumah-rumahnya asing, dan wajah-wajah orangnya tak ia kenal. Rumahnya sendiri sudah tak ada. Ia bertanya kepada seorang lelaki tua tentang Urashima Taro dan ibunya.
"Urashima Taro?" kata lelaki tua itu sambil mengernyit. "Kakekku pernah bercerita tentang pemuda bernama itu. Katanya ia pergi melaut tiga ratus tahun yang lalu dan tak pernah kembali. Ibunya meninggal dalam kesedihan."
Taro terduduk lemas di pasir. Tiga hari di istana bawah laut ternyata tiga ratus tahun di dunia manusia. Ia sendirian. Semua yang ia kenal sudah tiada. Dalam kebingungan dan kesedihan, ia teringat kotak pemberian Putri Otohime. Barangkali kotak itu bisa membawanya kembali.
Ia menarik pita sutra dan membuka tutupnya. Dari dalam kotak itu mengepul asap putih yang menyelimuti tubuhnya. Seketika rambutnya memutih, kulitnya keriput, dan punggungnya membungkuk. Urashima Taro menjadi lelaki tua renta dalam sekejap. Kotak itu ternyata menyimpan tiga ratus tahun usianya.
Kisah Urashima Taro dituturkan di Jepang selama berabad-abad. Ia mengingatkan kita bahwa waktu adalah harta yang tak bisa dikembalikan, dan bahwa kebahagiaan yang membuat kita melupakan orang-orang tercinta kadang harus dibayar sangat mahal.