Soapy gelisah di bangku taman Madison Square. Ketika angsa liar terbang tinggi di malam hari, ketika perempuan-perempuan tanpa mantel bulu menjadi lebih sayang pada suami mereka, dan ketika Soapy gelisah di bangku taman, kita tahu musim dingin sudah dekat.
Sehelai daun kering jatuh di pangkuan Soapy. Itu kartu nama dari Jack Frost, sang Musim Dingin. Soapy tahu sudah waktunya menyusun rencana untuk menghadapi dinginnya bulan-bulan mendatang.
Keinginan Soapy sederhana. Ia tidak memimpikan kapal pesiar ke Laut Tengah atau liburan ke selatan. Ia hanya ingin tiga bulan di Pulau Blackwell, penjara kota. Tiga bulan dengan makanan yang pasti, ranjang yang pasti, dan teman-teman yang menyenangkan, aman dari angin utara dan polisi. Setiap tahun ia melakukannya. Dan sekarang waktunya sudah tiba.
Ada banyak cara untuk masuk penjara. Yang paling menyenangkan adalah makan malam mewah di restoran mahal, lalu mengaku tak punya uang. Polisi akan dipanggil, dan urusan selesai.
Soapy berjalan ke sebuah restoran mewah di Broadway. Wajahnya sudah bercukur, mantelnya lumayan, dan dasinya rapi hadiah dari seorang misionaris di hari Thanksgiving. Kalau ia bisa sampai di meja tanpa ketahuan, ia akan memesan bebek panggang dan sebotol anggur. Tetapi begitu Soapy masuk, mata kepala pelayan langsung jatuh pada celananya yang lusuh dan sepatunya yang sudah terbuka. Tangan-tangan yang kuat memutar tubuhnya dan mengeluarkannya dengan diam-diam ke trotoar.
Rencana pertama gagal. Soapy berjalan ke sebuah toko dan melemparkan batu ke kaca etalasenya yang besar. Orang-orang berlarian, dan seorang polisi datang.
"Siapa yang melakukannya?" tanya polisi itu.
"Mungkin saya ada hubungannya," kata Soapy dengan ramah, seperti menyambut keberuntungan.
Tetapi polisi itu tak percaya. Orang yang memecahkan kaca tak akan berdiri di tempat dan mengobrol dengan polisi; ia pasti lari. Polisi itu melihat seorang lelaki berlari mengejar trem, dan ia pun mengejar lelaki itu. Soapy ditinggalkan dengan hati kesal.
Di seberang jalan ada sebuah restoran sederhana. Soapy masuk, makan kue dadar, donat, dan pai sampai kenyang, lalu mengaku tak punya uang. "Panggil polisi," katanya. "Jangan biarkan saya menunggu."
"Tak usah panggil polisi untukmu," kata pelayan itu. Dua pelayan melemparkannya ke trotoar di atas telinga kirinya. Soapy bangun, menepuk-nepuk debunya. Penjara tampak seperti mimpi yang jauh.
Ia mencoba menggoda seorang perempuan muda di depan sebuah toko, tepat di depan seorang polisi yang galak. Ia menggoyang-goyangkan topinya, berdeham, tersenyum, dan berbicara dengan kurang ajar. Ia yakin sebentar lagi tangan polisi akan mencengkeram lengannya. Tetapi perempuan itu justru menoleh, tersenyum, dan menggandeng lengannya. "Tentu saja, Mike, kalau kau mau mentraktirku minum. Aku sudah lama ingin bicara denganmu, tapi polisi itu terus memperhatikan." Soapy terpaksa melepaskan diri dan lari.
Ia mencoba membuat keributan di jalan, berteriak dan bernyanyi seperti orang mabuk. Polisi memalingkan muka. "Anak-anak Yale merayakan kemenangan mereka," kata polisi kepada seseorang. "Berisik, tapi tak berbahaya. Kami diperintahkan membiarkan mereka."
Ia mengambil payung sutra seorang lelaki di sebuah toko cerutu. Lelaki itu mengejarnya. "Itu payungku!" "Oh ya?" jawab Soapy. "Kalau begitu, kenapa tak panggil polisi? Ada polisi di sudut sana." Lelaki itu justru tersipu-sipu. "Ah, sebenarnya... mungkin saya salah. Saya mengambilnya dari sebuah restoran pagi tadi. Kalau itu payung Anda, maafkan saya." Ia pun pergi terburu-buru.
Soapy menyerah. Ia berjalan tanpa tujuan hingga tiba di sebuah jalan yang sepi. Ada sebuah gereja tua di sana. Dari jendelanya yang berwarna-warni memancar cahaya lembut. Seorang pemain organ sedang berlatih untuk ibadah Minggu. Musiknya yang manis mengalir ke telinga Soapy, dan ia berdiri terpaku di pagar besi.
Bulan bersinar tenang di langit. Burung-burung berkicau pelan di atap. Kidung yang dimainkan organ itu adalah kidung yang pernah ia kenal dulu, ketika hidupnya masih berisi ibu, bunga mawar, cita-cita, sahabat, pikiran yang bersih, dan kerah baju yang putih.
Pikiran Soapy yang terbuka dan pengaruh gereja tua itu menciptakan perubahan mendadak dalam jiwanya. Ia melihat dengan ngeri betapa dalam ia telah jatuh. Hari-hari yang rendah, keinginan yang hina, harapan yang mati, dan kemampuan yang terbuang sia-sia.
Hatinya berdebar mendengar suara baru. Ia akan bangkit dari lumpur. Ia akan menjadi manusia lagi. Belum terlambat, ia masih muda. Ia akan menghidupkan kembali cita-citanya dan mengejarnya tanpa goyah. Besok ia akan pergi ke pusat kota dan mencari pekerjaan. Seorang pengusaha bulu pernah menawarinya pekerjaan sebagai sopir. Ia akan menemui orang itu besok dan meminta pekerjaan itu. Ia akan menjadi seseorang di dunia ini. Ia akan...
Soapy merasakan sebuah tangan menepuk bahunya. Ia menoleh dan melihat wajah lebar seorang polisi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya polisi itu.
"Tidak apa-apa," kata Soapy.
"Kalau begitu ikut aku," kata polisi itu.
"Tiga bulan di Pulau Blackwell," kata hakim di pengadilan keesokan paginya.