Di Tana Toraja, hiduplah seorang pemuda bernama La Dana. Ia terkenal cerdik, bahkan kadang terlalu cerdik. Orang kampung sering geleng-geleng kepala melihat akalnya, tetapi diam-diam mereka juga kagum.
Suatu hari La Dana dan temannya diundang ke sebuah pesta adat. Di Toraja, tuan rumah pesta biasanya membagikan daging kerbau kepada para tamu. La Dana dan temannya mendapat bagian yang sama: seekor kerbau untuk berdua.
"Bagaimana kalau kerbaunya dibagi saja," usul La Dana. "Aku ambil bagian belakang, kau ambil bagian depan."
Temannya setuju tanpa berpikir panjang. Kerbau itu masih hidup, jadi mereka memutuskan memeliharanya dulu sebelum disembelih. Temannya harus memberi makan kerbau itu setiap hari, karena mulutnya berada di bagian depan. Sementara La Dana tak perlu melakukan apa-apa.
Beberapa bulan kemudian, kerbau itu gemuk dan sehat. Seorang petani datang ingin menyewa kerbau untuk membajak sawah. "Tentu boleh," kata La Dana. "Tapi uang sewanya untukku, karena yang menarik bajak adalah bagian belakang kerbau."
Temannya protes, tetapi La Dana berkeras. Ketika kerbau itu akhirnya disembelih, temannya berharap setidaknya bisa mendapat bagian yang adil. Namun La Dana lebih dulu berkata, "Kerbau ini mati karena kakinya lelah membajak, dan kaki belakang itu milikku. Jadi yang paling berjasa adalah aku."
Temannya yang sudah habis kesabaran akhirnya mengadu kepada kepala kampung. Setelah mendengar cerita keduanya, kepala kampung tertawa terbahak-bahak. "La Dana," katanya, "kau memang cerdik. Tapi kalau yang depan tak pernah diberi makan, yang belakang juga tak akan pernah bisa menarik bajak."
La Dana tersipu. Ia sadar akalnya kali ini keterlaluan. Akhirnya daging dan uang sewa itu dibagi rata. Orang kampung pun tertawa setiap kali mengingat kisah itu.
Cerita La Dana disukai anak-anak Toraja karena lucu, tetapi pesannya jelas: kecerdikan sebaiknya dipakai untuk menolong, bukan untuk mengakali teman sendiri.