c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Kids

Raja Midas dan Sentuhan Emas

NH
Nathaniel Hawthorne

Diterbitkan 21 September 2026 • 3 Menit Baca

Dahulu kala, hiduplah seorang raja yang sangat kaya bernama Midas. Ia memiliki seorang putri kecil bernama Marygold. Raja Midas mencintai dua hal di dunia ini: emas dan putrinya. Tetapi makin lama, cintanya pada emas makin besar. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di ruang bawah tanah istananya, menghitung tumpukan emasnya, dan membayangkan bagaimana ia bisa memiliki lebih banyak lagi.

Suatu hari, ketika ia sedang menghitung emas, muncullah seorang asing berwajah ramah yang bersinar keemasan. "Kau orang yang kaya, Raja Midas," katanya. "Apakah kau puas?"

"Puas? Belum," jawab Midas. "Aku ingin semua yang kusentuh berubah menjadi emas."

"Sentuhan Emas?" kata orang asing itu. "Baiklah. Besok pagi, ketika matahari terbit, keinginanmu akan terkabul." Ia pun menghilang.

Esok paginya, ketika sinar matahari pertama masuk ke kamarnya, Raja Midas menyentuh selimutnya. Selimut itu berubah menjadi emas yang berkilau! Ia melompat dari ranjang dengan gembira. Ia menyentuh tiang ranjang, kursi, meja, dan semuanya berubah menjadi emas. Ia menyentuh kacamatanya, dan kacamata itu menjadi emas, sehingga ia tak bisa lagi melihat melaluinya. Tetapi ia tak peduli. Ia berlari ke taman dan menyentuh bunga-bunga mawar. Semuanya berubah menjadi emas yang keras dan tak lagi harum.

Tiba waktu sarapan. Raja Midas lapar sekali. Ia mengambil secangkir kopi. Begitu cangkir menyentuh bibirnya, kopi itu berubah menjadi emas cair yang langsung membeku. Ia mengambil ikan goreng, dan ikan itu menjadi emas. Ia mengambil roti, dan roti itu menjadi emas. Ia tak bisa makan apa pun!

Marygold masuk sambil menangis, membawa mawar emas yang keras dan dingin. "Ayah, apa yang terjadi pada bunga-bunga mawarku? Semuanya jadi jelek dan tak harum lagi!"

Raja Midas merasa sedih melihat putrinya menangis. Tanpa berpikir, ia memeluk Marygold untuk menghiburnya. Seketika tubuh Marygold berubah menjadi patung emas. Wajahnya yang manis membeku dengan air mata emas di pipinya.

Raja Midas menjerit. Ia berlutut di depan patung putrinya dan menangis tersedu-sedu. Semua emas di dunia tak ada artinya lagi baginya. Ia hanya menginginkan putrinya kembali.

Orang asing itu muncul lagi. "Bagaimana, Raja Midas? Apakah kau bahagia dengan Sentuhan Emasmu?"

"Aku sangat menderita," tangis Midas. "Ambillah kembali semua emasku. Aku hanya ingin putriku, dan secangkir air yang bisa kuminum."

"Kau sudah belajar sesuatu," kata orang asing itu. "Pergilah ke sungai di belakang taman. Mandilah di sana, dan ambillah airnya untuk memercikkan semua yang ingin kau kembalikan seperti semula."

Raja Midas berlari ke sungai dan menceburkan diri. Ia mengisi sebuah kendi dengan air, lalu berlari kembali dan memercikkan air itu ke tubuh Marygold. Perlahan, warna merah muda kembali ke pipi putrinya, dan Marygold hidup kembali. Ia heran mengapa ayahnya memeluknya sambil menangis bahagia.

Raja Midas memercikkan air ke seluruh taman, dan bunga-bunga mawar kembali segar dan harum. Sejak hari itu, Raja Midas tak lagi mencintai emas. Satu-satunya emas yang ia sukai adalah rambut keemasan putrinya. Ketika ia sudah tua, ia sering memangku cucu-cucunya dan menceritakan kisah ini, sambil mengelus rambut mereka yang berkilau keemasan seperti rambut ibu mereka.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “The Golden Touch” karya Nathaniel Hawthorne (A Wonder-Book for Girls and Boys, Amerika Serikat, 1852). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

NH

Tentang Penulis: Nathaniel Hawthorne

Novelis dan cerpenis Amerika (1804–1864).

Lihat Semua Karya Nathaniel Hawthorne →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Kids

Anak Gembala yang Suka Berbohong
Kids 2 Menit Baca

Anak Gembala yang Suka Berbohong

Di sebuah desa di kaki bukit, ada seorang anak gembala yang setiap hari menggiring domba-domba penduduk ke padang rumput. Pekerjaannya sederhana: menjaga domba dari serigala. Tetapi bagi anak itu, pek...