Di Kesultanan Deli Tua, hiduplah seorang putri yang kecantikannya tak ada tandingnya. Tubuhnya memancarkan cahaya kehijauan bila terkena sinar bulan, sehingga ia dijuluki Putri Hijau. Ia memiliki dua saudara laki-laki yang sakti: Mambang Yazid yang bisa menjelma menjadi naga, dan Mambang Khayali yang bisa menjelma menjadi meriam.
Kabar kecantikan Putri Hijau terdengar hingga ke Aceh. Sultan Aceh mengirim utusan untuk melamarnya. Namun Putri Hijau menolak dengan halus. Penolakan itu dianggap penghinaan, dan Sultan Aceh mengirim pasukan besar untuk menyerbu Deli.
Pertempuran berlangsung sengit. Mambang Khayali menjelma menjadi meriam dan menembak tanpa henti ke arah musuh. Namun pasukan Aceh terlalu banyak. Meriam itu terus menembak hingga menjadi sangat panas dan akhirnya pecah menjadi dua. Satu bagian terlempar jauh, dan bagian lainnya tertinggal. Konon, potongan meriam itu masih dapat dilihat hingga kini di Medan, dikenal sebagai Meriam Puntung.
Mambang Yazid menjelma menjadi naga dan mengamuk, tetapi ia pun tak mampu menahan pasukan musuh. Deli Tua jatuh. Putri Hijau ditawan dan dimasukkan ke dalam peti kaca untuk dibawa ke Aceh dengan kapal.
Sebelum berangkat, Putri Hijau meminta satu hal: setibanya di muara, ia ingin diadakan upacara, dan rakyat harus mempersembahkan sebutir telur ayam serta segenggam beras. Permintaan itu dipenuhi.
Di tengah upacara di muara sungai, badai tiba-tiba mengamuk. Ombak besar mengguncang kapal. Dari dalam air muncul seekor naga raksasa, Mambang Yazid, yang datang menjemput adiknya. Naga itu menghantam kapal, meraih peti kaca, dan membawa Putri Hijau menyelam ke dasar laut.
Sejak saat itu Putri Hijau tak pernah terlihat lagi. Masyarakat Deli percaya ia hidup tenang di Selat Malaka bersama kakaknya. Kisah ini dikenang sebagai lambang kehormatan dan kasih sayang saudara yang rela berkorban demi melindungi keluarganya.