Seorang anak laki-laki mendapat hadiah ulang tahun berupa sekotak prajurit timah. Ada dua puluh lima prajurit, semuanya bersaudara karena dibuat dari sendok timah tua yang sama. Mereka memanggul senapan dan mengenakan seragam merah biru yang gagah. Tetapi prajurit terakhir hanya berkaki satu, karena timahnya tak cukup. Meski begitu, ia berdiri tegak dan teguh di atas satu kakinya, sama seperti yang lain.
Di atas meja yang sama, berdiri sebuah istana kertas yang indah. Di depan pintunya berdiri seorang penari balerina dari kertas. Ia mengenakan rok tipis dan pita biru di bahunya, dihiasi manik-manik berkilau. Ia mengangkat satu kakinya tinggi-tinggi ke belakang, sehingga prajurit timah mengira penari itu juga berkaki satu, seperti dirinya.
"Dialah istri yang cocok untukku," pikir prajurit itu. "Tapi ia tinggal di istana, sedangkan aku hanya di dalam kotak bersama dua puluh empat saudaraku." Setiap malam ia memandanginya dari balik kotak tembakau.
Di dalam kotak tembakau itu tinggal seekor jin kecil yang iri. "Prajurit, jangan pandangi yang bukan milikmu!" katanya. Prajurit timah tak menjawab.
Esok paginya, entah karena ulah jin itu atau karena angin, prajurit timah jatuh dari jendela lantai tiga. Ia tertancap di antara batu jalan dengan bayonet menghadap ke bawah. Hujan turun, dan dua anak jalanan menemukannya. Mereka membuat perahu kertas, meletakkan prajurit timah di dalamnya, dan menghanyutkannya di selokan.
Perahu itu terombang-ambing masuk ke dalam gorong-gorong yang gelap. Seekor tikus got menghadangnya dan menuntut paspor. Prajurit timah tetap diam, memeluk senapannya erat-erat. Arus membawanya ke kanal, dan perahu kertas yang basah akhirnya tenggelam. Tepat ketika air menutupi kepalanya, seekor ikan besar menelannya.
Di dalam perut ikan sangat gelap dan sempit, tetapi prajurit itu tetap tegak. Beberapa waktu kemudian, ikan itu tertangkap, dijual di pasar, dan dibawa ke dapur. Ketika juru masak membelah perutnya, ia berseru, "Lho, ada prajurit timah!" Ajaibnya, dapur itu adalah dapur rumah yang sama tempat prajurit itu dulu tinggal.
Ia kembali diletakkan di atas meja, dan di sana ia melihat penari balerina yang masih berdiri dengan satu kaki terangkat. Keduanya saling memandang tanpa berkata apa-apa.
Tiba-tiba salah satu anak kecil di rumah itu mengambil prajurit timah dan melemparkannya ke perapian tanpa alasan. Barangkali jin kecil itu biang keladinya. Prajurit timah berdiri di tengah nyala api dan merasa tubuhnya meleleh. Ia terus memandangi penari itu, dan penari itu memandanginya.
Sebuah pintu terbuka, dan angin menerbangkan sang penari. Ia melayang seperti peri, langsung masuk ke perapian, ke sisi prajurit timah, lalu terbakar dalam sekejap. Prajurit itu meleleh menjadi gumpalan kecil.
Esok paginya, ketika pelayan membersihkan abu, ia menemukan sebongkah timah kecil berbentuk hati. Dan dari sang penari, hanya tersisa manik-manik berkilaunya, yang kini hitam hangus.
Kisah ini adalah salah satu kisah cinta paling sunyi yang pernah ditulis: tentang keteguhan yang tak pernah mengeluh, dan cinta yang tak pernah diucapkan.