Di Pulau Batam, dahulu hiduplah seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Ia tinggal bersama majikannya, Mak Piah, dan anak perempuan Mak Piah yang bernama Siti Mayang. Mah Bongsu bekerja keras setiap hari mencuci, memasak, dan membersihkan rumah, tetapi ia selalu diperlakukan dengan kasar.
Suatu hari, ketika Mah Bongsu sedang mencuci pakaian di sungai, ia melihat seekor ular yang terluka parah. Ular itu terkena tombak nelayan dan tak bisa bergerak. Mah Bongsu merasa iba. Ia membawa ular itu pulang, menyembunyikannya, dan merawat lukanya dengan ramuan daun-daunan.
Ular itu sembuh. Ajaibnya, setiap kali ular itu berganti kulit, kulit lamanya berubah menjadi emas dan permata. Mah Bongsu menjual emas itu dan hidupnya perlahan menjadi makmur. Tetapi ia tak lupa diri. Ia membangun rumah sederhana dan membantu orang-orang miskin di kampungnya.
Mak Piah dan Siti Mayang iri. Mereka mengintai Mah Bongsu dan menemukan rahasianya. Mak Piah lalu mencari ular di hutan dan membawanya pulang untuk Siti Mayang. Tetapi ular yang mereka bawa adalah ular berbisa yang ganas. Ular itu menggigit Siti Mayang hingga ia jatuh sakit parah.
Sementara itu, ular milik Mah Bongsu berkata padanya, "Terima kasih telah merawatku, Mah Bongsu. Kini tiba saatnya aku membalas budimu. Bawalah aku ke sungai." Mah Bongsu menuruti. Di tepi sungai, ular itu mengibaskan tubuhnya, dan tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pemuda yang tampan. Ia adalah seorang pangeran yang dikutuk menjadi ular, dan kebaikan hati Mah Bongsu telah mematahkan kutukan itu.
Pangeran itu melamar Mah Bongsu, dan mereka menikah dengan pesta yang meriah. Mah Bongsu tak menyimpan dendam kepada Mak Piah. Ia justru mengirimkan tabib untuk menyembuhkan Siti Mayang. Mak Piah dan anaknya pun menyesali perbuatan mereka.
Sungai tempat pangeran berubah wujud itu kemudian dinamai Sungai Jodoh. Masyarakat Batam percaya bahwa siapa pun yang mandi di sungai itu akan segera menemukan jodohnya. Hingga kini, nama Sungai Jodoh diabadikan sebagai nama sebuah kawasan di Batam.
Kisah ini mengajarkan bahwa ketulusan menolong tanpa pamrih akan berbuah kebahagiaan, sedangkan iri hati hanya membawa celaka.