Di Pulau Halmahera, di sebuah dusun kecil bernama Lisawa, hiduplah seorang gadis bernama Majojaru dan seorang pemuda bernama Magohiduuru. Keduanya saling mencintai dan telah berjanji sehidup semati. Seluruh dusun tahu tentang cinta mereka dan menanti hari pernikahan keduanya.
Suatu hari, Magohiduuru harus pergi merantau ke negeri seberang untuk mencari bekal pernikahan. "Tunggulah aku," katanya kepada Majojaru. "Aku akan kembali membawa mas kawin yang pantas untukmu."
Majojaru melepas kekasihnya dengan air mata. Setiap hari ia duduk di bawah pohon beringin di tepi dusun, memandang ke arah laut, menanti perahu Magohiduuru pulang.
Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Magohiduuru tak kunjung kembali, dan tak ada kabar sedikit pun darinya. Majojaru tetap setia menunggu, meski banyak pemuda lain datang melamar.
Suatu hari, seorang pedagang dari negeri seberang singgah di dusun itu. Majojaru bertanya tentang Magohiduuru. Pedagang itu menunduk. "Pemuda itu sudah meninggal dunia," katanya. "Ia sakit keras di rantau dan tak tertolong."
Dunia Majojaru runtuh. Ia berjalan ke bawah pohon beringin tempat ia biasa menunggu, lalu duduk dan menangis. Ia menangis siang dan malam, tanpa henti, tanpa makan dan tanpa minum. Air matanya mengalir deras, membasahi tanah di bawah pohon beringin itu.
Air mata itu tak pernah kering. Lama-kelamaan, air mata Majojaru menggenang dan menjadi sebuah telaga. Airnya sangat jernih dan berwarna biru indah, seperti langit yang dirindukan oleh orang yang menanti. Majojaru sendiri tenggelam dalam telaga air matanya.
Para tetua adat dusun Lisawa berkumpul. Mereka menyadari bahwa telaga itu lahir dari kesetiaan cinta yang tak terbalas. Mereka menamainya Telaga Biru, dan menjaganya sebagai tempat yang dihormati.
Hingga kini, Telaga Biru di Halmahera Utara masih ada, dengan airnya yang biru jernih. Masyarakat setempat menuturkan kisah Majojaru dan Magohiduuru sebagai lambang kesetiaan cinta yang tak lekang oleh waktu, bahkan oleh kematian.