c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Cinta

Kisah Satu Jam

KC
Kate Chopin

Diterbitkan 25 Agustus 2026 • 4 Menit Baca

Semua orang tahu bahwa Nyonya Mallard menderita penyakit jantung. Karena itu, kabar tentang kematian suaminya harus disampaikan dengan sangat hati-hati.

Josephine, kakaknya, yang memberitahunya dengan kalimat terputus-putus, setengah tersirat. Richards, sahabat suaminya, juga ada di sana. Dialah yang pertama kali mendengar kabar kecelakaan kereta api di kantor surat kabar, dan melihat nama Brently Mallard di urutan teratas daftar korban tewas. Ia menunggu sampai kabar itu dipastikan oleh telegram kedua sebelum bergegas datang.

Nyonya Mallard tidak menerima kabar itu seperti kebanyakan perempuan, yang terpaku tak percaya. Ia langsung menangis dalam pelukan kakaknya dengan tangis yang meledak-ledak. Ketika badai kesedihan itu reda, ia masuk ke kamarnya sendirian dan tak mau ada yang mengikutinya.

Di depan jendela yang terbuka ada sebuah kursi berlengan yang nyaman. Ia menjatuhkan diri ke kursi itu, lelah seolah-olah seluruh tubuh dan jiwanya letih.

Dari jendela, ia bisa melihat pucuk-pucuk pohon di alun-alun yang bergetar dengan kehidupan musim semi. Aroma hujan menguar di udara. Di bawah, seorang pedagang keliling menawarkan dagangannya. Nyanyian seseorang di kejauhan terdengar samar, dan burung-burung pipit berkicau di atap. Di balik awan-awan yang berarak, tampak petak-petak langit biru.

Ia duduk tak bergerak, kecuali sesekali terisak seperti anak kecil yang menangis sampai tertidur.

Ia masih muda, dengan wajah tenang yang garis-garisnya menunjukkan ketabahan. Tetapi kini tatapannya kosong, tertuju pada salah satu petak langit biru itu. Ada sesuatu yang datang kepadanya, dan ia menunggunya dengan takut. Apa itu? Ia tak tahu. Terlalu halus untuk dinamai. Tetapi ia merasakannya merambat keluar dari langit, melalui suara, aroma, dan warna yang memenuhi udara.

Dadanya naik turun dengan gelisah. Ia mulai mengenali sesuatu yang hendak menguasainya, dan ia berusaha menolaknya dengan kehendaknya, tetapi sia-sia. Ketika ia menyerah, sebuah kata kecil terbisik dari bibirnya yang sedikit terbuka. Ia mengucapkannya berulang kali: "Bebas, bebas, bebas!" Tatapan kosong dan ngeri di matanya lenyap. Matanya kini tajam dan cerah. Jantungnya berdebar kencang, dan darah yang hangat mengalir ke seluruh tubuhnya.

Ia tahu ia akan menangis lagi ketika melihat tangan yang lembut itu terlipat dalam kematian, wajah yang selalu memandangnya dengan penuh cinta itu kini membeku kelabu. Tetapi ia melihat melampaui momen pahit itu: tahun-tahun panjang yang akan datang, yang sepenuhnya menjadi miliknya sendiri. Ia membentangkan tangannya menyambut tahun-tahun itu.

Tak akan ada lagi orang yang hidup untuknya selama tahun-tahun itu. Ia akan hidup untuk dirinya sendiri. Tak akan ada lagi kehendak kuat yang membengkokkan kehendaknya, dengan keyakinan buta yang dimiliki lelaki dan perempuan bahwa mereka berhak memaksakan kehendak pada sesamanya. Dan ya, ia pernah mencintai suaminya, kadang-kadang. Sering kali tidak. Apa artinya? Apa artinya cinta, misteri yang tak terpecahkan itu, dibandingkan dengan kesadaran akan kemerdekaan diri yang tiba-tiba ia rasakan sebagai dorongan terkuat dalam dirinya?

"Bebas! Tubuh dan jiwaku bebas!" bisiknya terus.

Josephine berlutut di depan pintu yang terkunci. "Louise, buka pintunya! Kumohon. Kau bisa sakit. Apa yang kau lakukan, Louise?"

"Pergilah. Aku tidak akan sakit." Tidak. Ia sedang meneguk ramuan kehidupan melalui jendela yang terbuka itu.

Khayalannya melayang ke hari-hari yang akan datang. Hari-hari musim semi, hari-hari musim panas, semua hari yang menjadi miliknya. Ia berdoa cepat-cepat agar hidupnya panjang. Baru kemarin ia berpikir dengan ngeri bahwa hidupnya mungkin akan panjang.

Akhirnya ia bangkit dan membuka pintu untuk kakaknya yang terus memohon. Ada kemenangan yang membara di matanya, dan tanpa sadar ia melangkah seperti dewi kemenangan. Ia merangkul pinggang kakaknya, dan bersama-sama mereka menuruni tangga. Richards menunggu mereka di bawah.

Seseorang membuka pintu depan dengan kunci. Brently Mallard masuk, sedikit berdebu dari perjalanan, dengan tenang membawa tas dan payungnya. Ia berada jauh dari lokasi kecelakaan, dan bahkan tak tahu ada kecelakaan. Ia tertegun mendengar jeritan melengking Josephine, dan melihat Richards bergerak cepat berusaha menutupi Nyonya Mallard dari pandangan suaminya.

Tetapi Richards terlambat.

Ketika para dokter datang, mereka berkata ia meninggal karena penyakit jantung, karena sukacita yang membunuh.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “The Story of an Hour” karya Kate Chopin (Amerika Serikat, 1894). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

KC

Tentang Penulis: Kate Chopin

Penulis Amerika (1850–1904).

Lihat Semua Karya Kate Chopin →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Cinta

Mawar Merah
Cinta 4 Menit Baca

Mawar Merah

Mawar merah adalah kecintaannya, nama orangnya sendiri juga "Mawar". Dan setiap tahun suaminya selalu mengirimkan mawar-mawar itu, diikat dengan pita indah. Pada tahun suaminya meninggal dia mendapat...

Cerita Fina - part 2
Cinta 4 Menit Baca

Cerita Fina - part 2

Sepertinya ada yang eneh dengan Hendra dan Runa hari ini, tak seperti biasanya mereka tak banyak bicara. Jangan kan bercanda atau sekedar melakukan lelucan, mengobrol ringan saja tampaknya mereka engg...