Aku terluka parah, dan pelayanku memaksa masuk ke sebuah istana tua yang ditinggalkan di pegunungan Apennine agar aku bisa beristirahat semalam. Kami menempati sebuah kamar kecil di menara terpencil. Dindingnya dihiasi permadani dan banyak sekali lukisan dalam bingkai emas berukir.
Karena demam, aku tak bisa tidur. Aku menyuruh pelayanku menutup jendela, menyalakan lilin, dan memberiku sebuah buku kecil yang berisi keterangan tentang lukisan-lukisan itu. Aku membaca lama sekali. Menjelang tengah malam, aku menggeser lilin agar cahayanya lebih terang ke bukuku. Cahaya itu jatuh ke sebuah sudut kamar yang tadinya gelap, dan menyinari sebuah lukisan yang tak kulihat sebelumnya.
Itu potret seorang gadis muda yang baru beranjak dewasa. Lukisan itu hanya memperlihatkan kepala dan bahu, dalam bingkai oval yang berukir emas. Aku memejamkan mata sejenak. Mengapa aku memejamkan mata? Untuk meyakinkan diriku bahwa penglihatanku tak menipuku. Ketika aku membukanya lagi, aku menatap lukisan itu lama sekali.
Lukisan itu begitu hidup. Bukan karena teknik pelukisnya, bukan karena keindahan wajah gadis itu. Melainkan karena ekspresinya yang benar-benar hidup, yang membuatku terpukau, bingung, dan akhirnya ngeri. Aku membuka buku keterangan dan mencari kisah lukisan itu. Aku membaca kata-kata yang aneh ini:
"Ia adalah seorang gadis yang sangat cantik, dan penuh keceriaan. Terkutuklah saat ia melihat, mencintai, dan menikahi sang pelukis. Sang pelukis sangat bersemangat, pekerja keras, keras kepala, dan sudah memiliki kekasih lain dalam hidupnya: Seni. Gadis itu hanya mencintai dan menyayangi segalanya, kecuali satu hal: Seni, saingannya. Ia takut pada palet, kuas, dan semua alat yang merampas wajah kekasihnya darinya."
"Maka betapa mengerikannya bagi sang istri ketika suaminya ingin melukis potretnya. Tetapi ia rendah hati dan patuh. Ia duduk dengan sabar selama berminggu-minggu di sebuah kamar menara yang gelap, di mana cahaya hanya masuk dari atas. Sang pelukis sangat bangga akan karyanya, yang ia kerjakan dari jam ke jam, dari hari ke hari."
"Sang pelukis tenggelam dalam lamunannya. Ia tak melihat bahwa cahaya yang jatuh begitu suram di menara itu telah merampas kesehatan dan semangat istrinya, yang makin layu di mata semua orang, kecuali di matanya. Namun gadis itu terus tersenyum, dan tak mengeluh, karena ia melihat suaminya menikmati pekerjaannya dan bekerja siang dan malam untuk melukis dirinya yang sangat ia cintai."
"Mereka yang melihat potret itu membicarakannya dengan suara pelan, sebagai sebuah keajaiban. Tetapi ketika pekerjaan itu hampir selesai, tak seorang pun diizinkan masuk ke menara. Sang pelukis menjadi liar karena gairahnya, dan jarang memalingkan matanya dari kanvas, bahkan untuk memandang istrinya. Ia tak mau melihat bahwa warna yang ia pulaskan ke kanvas diambil dari pipi perempuan yang duduk di sampingnya."
"Ketika minggu demi minggu berlalu dan hanya tinggal sedikit lagi, satu sapuan di bibir dan satu warna di mata, jiwa sang istri berkedip-kedip seperti nyala lampu yang hampir padam. Lalu sapuan itu diberikan, dan warna itu dipulaskan. Sejenak sang pelukis berdiri terpesona di depan karyanya. Lalu, sambil tetap menatapnya, ia gemetar, memucat, dan berseru dengan suara keras: 'Ini benar-benar Kehidupan itu sendiri!'"
"Ia berbalik dengan tiba-tiba untuk memandang kekasihnya. Istrinya sudah mati."