Ebenezer Scrooge adalah lelaki tua paling kikir di seluruh London. Ia dingin seperti es, keras seperti batu, dan tak pernah memberi sepeser pun kepada siapa pun. Mitra dagangnya, Jacob Marley, sudah meninggal tujuh tahun yang lalu, tepat pada malam Natal, dan Scrooge tak meneteskan air mata sedikit pun.
Pada malam Natal, keponakan Scrooge datang mengundangnya makan malam Natal. "Natal? Omong kosong!" jawab Scrooge. Dua orang dermawan datang meminta sumbangan untuk orang miskin. "Bukankah ada penjara dan rumah kerja paksa?" bentaknya. "Biar mereka pergi ke sana." Juru tulisnya yang miskin, Bob Cratchit, bekerja di kantor yang dingin dengan hanya sebutir bara di tungku, dan dengan berat hati Scrooge memberinya libur sehari untuk Natal.
Malam itu, di rumahnya yang gelap dan sunyi, Scrooge didatangi hantu Jacob Marley. Hantu itu terbelenggu rantai panjang yang berisi kotak uang, kunci, dan buku-buku kas. "Aku menempa rantai ini sendiri, mata rantai demi mata rantai, semasa hidupku," kata Marley. "Rantaimu sendiri jauh lebih panjang, Ebenezer. Malam ini kau akan dikunjungi tiga hantu. Itu satu-satunya kesempatanmu untuk menghindari nasibku."
Hantu pertama adalah Hantu Natal Masa Lalu. Ia membawa Scrooge melihat masa kecilnya yang kesepian di sekolah asrama, dan kakak perempuannya yang penyayang, yang kini sudah tiada. Ia melihat dirinya di masa muda, bekerja di toko Tuan Fezziwig yang baik hati, yang mengadakan pesta Natal yang meriah untuk para pegawainya. Dan ia melihat Belle, tunangannya, yang meninggalkannya karena ia lebih mencintai uang daripada dirinya. Scrooge menangis.
Hantu kedua adalah Hantu Natal Masa Kini. Ia membawa Scrooge ke rumah Bob Cratchit yang sederhana. Keluarga itu miskin, tetapi mereka merayakan Natal dengan penuh kegembiraan. Anak bungsu mereka, Tiny Tim, pincang dan sakit-sakitan, tetapi sangat ceria. "Tuhan memberkati kita semua!" katanya. Scrooge bertanya apakah Tiny Tim akan hidup. "Aku melihat kursi kosong di dekat perapian," jawab hantu itu, "dan sebuah tongkat tanpa pemilik. Bila tak ada yang berubah, anak itu akan mati." Scrooge juga melihat keponakannya tertawa bersama teman-temannya, dan mendoakan Scrooge meski ia selalu kasar.
Hantu ketiga, Hantu Natal Masa Depan, tak berbicara. Ia hanya menunjuk. Scrooge melihat sekelompok saudagar membicarakan kematian seseorang tanpa rasa sedih sedikit pun. Ia melihat para pencuri menjual selimut dan pakaian orang yang mati itu. Ia melihat rumah Cratchit yang sunyi dan berduka: Tiny Tim sudah meninggal. Lalu hantu itu membawanya ke sebuah kuburan yang terlantar. Di batu nisan tertulis nama: EBENEZER SCROOGE.
Scrooge berlutut dan memohon. "Aku bukan lagi orang yang dulu! Aku akan menghormati Natal di dalam hatiku, dan menjaganya sepanjang tahun! Aku akan hidup di Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan!"
Scrooge terbangun di ranjangnya sendiri. Hari itu hari Natal! Ia belum terlambat! Ia tertawa, menari, dan membuka jendela. Ia menyuruh seorang anak membeli kalkun paling besar di toko dan mengirimkannya ke rumah Bob Cratchit tanpa nama. Ia memberi sumbangan besar kepada orang-orang miskin. Ia datang ke rumah keponakannya untuk makan malam Natal, dan semua orang terkejut gembira.
Esok harinya, ia menaikkan gaji Bob Cratchit dan berjanji membantu keluarganya. Tiny Tim tidak meninggal, dan Scrooge menjadi seperti ayah kedua baginya. Scrooge menjadi lelaki paling baik hati di seluruh London. Dan orang-orang selalu berkata tentang dirinya bahwa ia tahu bagaimana merayakan Natal dengan sebaik-baiknya. Seperti kata Tiny Tim, "Tuhan memberkati kita semua!"