Musim panas di pedesaan sungguh indah. Di antara rumpun ilalang di tepi kolam, seekor induk itik sedang mengerami telur-telurnya. Satu per satu telurnya menetas, dan anak-anak itik kuning yang mungil keluar sambil mencicit. Namun ada satu telur yang paling besar dan belum juga menetas.
Ketika akhirnya telur itu pecah, keluarlah seekor anak itik yang besar, berbulu abu-abu kusam, dan tampak sangat berbeda. "Ya ampun, jelek sekali," gumam seekor itik tua yang lewat.
Di peternakan, anak itik itu menjadi bahan ejekan. Itik-itik lain mematuknya, ayam-ayam mendorongnya, dan bahkan anak perempuan yang memberi makan menendangnya. Saudara-saudaranya pun berkata, "Semoga kucing menangkapmu, dasar makhluk jelek!" Induknya sendiri mulai berharap anak itu tak pernah lahir.
Anak itik yang malang itu tak tahan lagi. Ia melompati pagar dan melarikan diri. Burung-burung kecil di semak terbang ketakutan melihatnya. "Pasti karena aku jelek," pikirnya sedih.
Ia mengembara dari rawa ke rawa. Angsa-angsa liar mengejeknya. Anjing pemburu nyaris menerkamnya. Ia sempat tinggal di pondok seorang nenek bersama seekor kucing dan seekor ayam yang sombong, tetapi mereka pun tak memahaminya. Ia merindukan air dan akhirnya pergi lagi.
Suatu senja di musim gugur, ia melihat sekawanan burung yang sangat indah terbang di langit. Bulu mereka putih berkilauan dan leher mereka panjang dan anggun. Mereka adalah angsa-angsa putih yang terbang ke selatan. Anak itik itu merasakan kerinduan yang aneh, tetapi ia tak berani berharap apa-apa.
Musim dingin sangat keras. Kolam membeku, dan ia hampir mati kedinginan. Seorang petani menemukannya dan membawanya pulang, tetapi anak-anak petani yang ingin bermain dengannya membuatnya takut, dan ia kabur lagi. Ia melewati musim dingin itu dengan penuh penderitaan di tengah rawa.
Ketika musim semi tiba, matahari kembali hangat. Anak itik itu mengepakkan sayapnya dan terkejut: sayapnya kini kuat dan besar, membawanya terbang tinggi hingga ke sebuah taman dengan kolam yang jernih. Di sana ia melihat tiga ekor angsa putih yang anggun.
"Aku akan mendekati mereka," pikirnya. "Biarlah mereka mematukku sampai mati. Lebih baik dibunuh oleh makhluk seindah itu daripada terus hidup menderita." Ia berenang mendekat dan menundukkan kepalanya menunggu serangan.
Tetapi apa yang ia lihat di permukaan air? Bayangannya sendiri. Ia bukan lagi burung abu-abu yang canggung. Ia adalah seekor angsa putih yang indah.
Angsa-angsa lain berenang mendekat dan membelainya dengan paruh mereka. Anak-anak di tepi kolam berseru, "Lihat, ada angsa baru! Dia yang paling cantik!" Angsa muda itu menyembunyikan kepalanya di balik sayap, malu tetapi bahagia. Ia tak menjadi sombong, sebab hati yang baik tak pernah sombong.
Andersen, yang masa kecilnya juga penuh ejekan, menulis kisah ini untuk semua anak yang merasa berbeda: tak apa lahir di kandang itik, asalkan kau menetas dari telur angsa.