c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Legenda

Baru Klinthing dan Rawa Pening

CR
Cerita Rakyat Nusantara

Diterbitkan 30 Juni 2026 • 2 Menit Baca

Di lereng Gunung Telomoyo, seorang perempuan bernama Endang Sawitri melahirkan anak yang tak biasa: seekor naga kecil. Ia menamainya Baru Klinthing. Naga itu bisa berbicara dan tumbuh menjadi anak yang cerdas. Ketika dewasa, ia bertanya siapa ayahnya.

"Ayahmu adalah Ki Hajar Salokantara, seorang pertapa di Gunung Telomoyo," jawab ibunya. "Pergilah menemuinya, dan bawalah klintingan ini sebagai tanda."

Baru Klinthing menemui ayahnya. Sang pertapa tak serta-merta percaya. "Bila kau benar anakku, lingkarilah Gunung Telomoyo dengan tubuhmu," katanya. Baru Klinthing melakukannya, tetapi tubuhnya kurang sejengkal. Ia lalu menjulurkan lidahnya hingga ujung kepala dan ekornya bertemu. Tanpa sengaja, Ki Hajar memotong lidah itu, dan lidah itu berubah menjadi tombak pusaka.

Ki Hajar kemudian menyuruh anaknya bertapa di hutan agar kutukannya lepas dan ia bisa menjadi manusia. Baru Klinthing bertapa dengan melingkar di dalam hutan.

Suatu hari, warga desa Pathok berburu ke hutan untuk pesta sedekah bumi. Mereka tak menemukan seekor binatang pun, sampai mereka melihat seekor naga besar yang sedang bertapa. Tanpa ragu, mereka memotong-motong tubuhnya dan membawanya pulang untuk dimasak.

Roh Baru Klinthing menjelma menjadi seorang anak kecil yang tubuhnya penuh luka dan berbau amis. Ia datang ke pesta itu dan meminta makanan. Warga mengusirnya dengan jijik. Hanya seorang janda tua bernama Nyi Latung yang menaruh iba. Ia membawa anak itu pulang dan memberinya makan.

"Nek," kata anak itu, "bila nanti terdengar suara gemuruh, naiklah ke atas lesung."

Anak itu kembali ke pesta. Ia menancapkan sebatang lidi ke tanah. "Siapa yang bisa mencabut lidi ini?" tantangnya. Warga tertawa dan mencoba satu per satu. Tak seorang pun berhasil, bahkan yang terkuat. Akhirnya anak itu sendiri yang mencabutnya.

Dari lubang bekas lidi itu memancar air, makin lama makin deras, hingga menenggelamkan seluruh desa. Hanya Nyi Latung yang selamat karena naik ke atas lesung. Desa itu berubah menjadi sebuah rawa yang luas. Airnya bening, sehingga orang menyebutnya Rawa Pening.

Kisah ini mengajarkan agar kita tak menilai orang dari penampilannya, dan agar kita selalu berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Kebaikan kecil seperti yang dilakukan Nyi Latung bisa menjadi penyelamat di saat yang tak terduga.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “Legenda Rawa Pening” (Jawa Tengah). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

CR

Tentang Penulis: Cerita Rakyat Nusantara

Kisah-kisah turun-temurun dari berbagai daerah di Indonesia, diceritakan ulang oleh redaksi.

Lihat Semua Karya Cerita Rakyat Nusantara →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Legenda

Talaga Warna
Legenda 4 Menit Baca

Talaga Warna

Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja. Prabu, begitulah orang memanggilnya. Ia adalah raja yang baik dan bijaksana. Tak heran, kalau negeri itu makmur...

Si Lancang
Legenda 2 Menit Baca

Si Lancang

Di daerah Kampar, Riau, hiduplah seorang janda miskin bersama anak laki-lakinya yang bernama Lancang. Mereka tinggal di gubuk reyot dan bekerja sebagai buruh tani. Hidup mereka sangat sederhana, kadan...