Simon adalah seorang tukang sepatu miskin yang tinggal bersama istrinya, Matryona, dan anak-anak mereka di sebuah pondok sewaan. Mereka hanya punya satu mantel kulit domba untuk berdua, dan mantel itu sudah compang-camping. Musim dingin hampir tiba, dan Simon berniat membeli kulit untuk membuat mantel baru.
Simon pergi ke desa untuk menagih utang dari para pelanggan. Tetapi mereka semua tak membayar. Ia hanya mendapat sedikit uang, dan dengan itu ia malah minum vodka untuk menghibur diri. Dalam perjalanan pulang, ia melihat sesuatu yang putih di balik kapel. Ternyata seorang lelaki muda, telanjang dan kedinginan, duduk bersandar di dinding.
Simon ketakutan dan hendak berlalu. Tetapi hatinya tergugah. "Apa yang kau lakukan, Simon?" katanya pada dirinya sendiri. "Orang itu akan mati kedinginan, dan kau lewat begitu saja?" Ia kembali, memberikan mantelnya dan sepatu botnya kepada lelaki itu, lalu membawanya pulang.
Matryona sangat marah melihat suaminya pulang tanpa kulit untuk mantel, dengan bau vodka, dan membawa seorang lelaki asing. Tetapi ketika Simon berkata, "Matryona, apakah kau tak punya Tuhan di hatimu?", hati Matryona luluh. Ia menyajikan roti terakhir mereka untuk tamu itu. Lelaki asing itu memandang Matryona dan tersenyum untuk pertama kalinya.
Lelaki asing itu bernama Mikhail. Ia tinggal bersama mereka dan belajar membuat sepatu. Dalam waktu singkat ia menjadi pembuat sepatu yang sangat terampil, dan pelanggan berdatangan dari mana-mana. Tetapi ia jarang bicara dan tak pernah tersenyum lagi.
Suatu hari, seorang bangsawan kaya dan sombong datang memesan sepatu bot. "Buatkan aku sepatu bot yang tahan setahun tanpa rusak!" bentaknya. Mikhail menatap ke belakang bangsawan itu dan tersenyum untuk kedua kalinya. Lalu ia justru membuat sepasang sandal kematian, alas kaki untuk orang yang akan dimakamkan. Simon sangat marah. Tetapi tak lama kemudian, seorang pelayan datang. "Majikanku meninggal dalam perjalanan pulang. Nyonya menyuruh kami membatalkan sepatu bot, dan memesan sandal untuk jenazahnya."
Enam tahun kemudian, seorang perempuan datang bersama dua gadis kecil kembar, salah satunya pincang. Ia menceritakan bahwa kedua gadis itu bukan anak kandungnya. Ibu mereka meninggal saat melahirkan, dan ayah mereka meninggal sebelumnya. Perempuan itu mengasuh mereka dengan penuh kasih, bahkan setelah anaknya sendiri meninggal. Mikhail memandang mereka dan tersenyum untuk ketiga kalinya.
Tubuh Mikhail tiba-tiba bercahaya. Ia berkata kepada Simon dan Matryona, "Aku adalah malaikat. Tuhan mengutusku untuk mengambil nyawa seorang ibu yang baru melahirkan bayi kembar. Aku tak tega, karena ia memohon agar anak-anaknya jangan dibiarkan yatim piatu. Maka Tuhan menghukumku turun ke bumi, sampai aku mempelajari tiga kebenaran: apa yang ada di dalam diri manusia, apa yang tak diberikan kepada manusia, dan apa yang membuat manusia hidup."
"Ketika Matryona memberiku roti, aku belajar yang pertama: di dalam diri manusia ada cinta. Ketika bangsawan itu memesan sepatu untuk setahun padahal ia akan mati sebelum malam, aku belajar yang kedua: manusia tak diberi pengetahuan tentang apa yang ia butuhkan untuk dirinya. Dan ketika perempuan ini mengasuh anak-anak yang bukan darah dagingnya, aku belajar yang ketiga."
"Manusia hidup bukan karena mereka memikirkan diri sendiri, melainkan karena ada cinta di dalam diri mereka. Siapa yang hidup dalam cinta, hidup di dalam Tuhan, dan Tuhan di dalam dirinya, sebab Tuhan adalah cinta."
Malaikat itu pun naik ke surga dengan nyanyian pujian, dan pondok Simon dipenuhi cahaya.