c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Keluarga

Vanka

AC
Anton Chekhov

Diterbitkan 17 Agustus 2026 • 4 Menit Baca

Vanka Zhukov, seorang anak berusia sembilan tahun, sudah tiga bulan dititipkan bekerja pada Alyakhin, seorang tukang sepatu di Moskwa. Malam itu malam Natal, dan ia tidak pergi tidur. Ia menunggu majikannya dan para pekerja lain pergi ke gereja, lalu mengeluarkan sebotol tinta dan pena berkarat dari lemari majikannya. Ia membentangkan selembar kertas yang kusut di depannya.

Sebelum menulis huruf pertama, ia menoleh beberapa kali dengan takut ke arah pintu dan jendela, lalu menarik napas panjang.

"Kakekku tersayang, Konstantin Makarich," tulisnya. "Aku menulis surat untukmu. Selamat Natal, dan semoga Tuhan memberimu segala yang baik. Aku tak punya ayah dan ibu, hanya Kakek seorang yang kupunya."

Vanka memandang ke luar jendela yang gelap. Ia membayangkan kakeknya, penjaga malam di sebuah perkebunan. Lelaki tua yang kurus dan lincah berusia enam puluh lima tahun, dengan wajah yang selalu tertawa dan mata yang mabuk. Siang hari kakeknya tidur di dapur para pelayan atau bercanda dengan para juru masak. Malam hari ia berkeliling perkebunan sambil membunyikan kentongan, ditemani dua ekor anjingnya, si Kashtanka tua dan si Belut yang licik.

"Kemarin aku dipukuli," lanjut Vanka. "Majikanku menyeretku ke halaman dengan menjambak rambutku dan memukuliku dengan tali kekang, karena aku menggoyang-goyang buaian bayinya dan tertidur. Minggu lalu nyonya menyuruhku membersihkan ikan hering, dan aku mulai dari ekornya, jadi ia mengambil ikan itu dan menggosokkan kepalanya ke mukaku. Para pekerja mengejekku, menyuruhku mencuri acar mentimun dari kedai, dan majikan memukulku dengan apa saja yang ada di tangannya. Makanannya tak ada. Pagi roti, siang bubur, malam roti lagi. Teh dan sup kol hanya untuk majikan. Aku tidur di lorong, dan bila bayinya menangis, aku tak tidur sama sekali karena harus menggoyang buaiannya."

"Kakek tersayang, demi Tuhan, bawalah aku pulang ke desa. Aku tak tahan lagi di sini. Aku berlutut di depanmu dan akan berdoa selalu untukmu. Bawalah aku pergi, kalau tidak aku akan mati."

Vanka mengusap matanya dengan kepalan tangannya yang hitam dan terisak.

"Aku akan menggiling tembakau untukmu," tulisnya lagi, "aku akan berdoa untukmu. Kalau aku berbuat salah, pukullah aku sesukamu. Kalau Kakek pikir tak ada pekerjaan untukku, aku akan minta pada pengurus kebun untuk menyemir sepatunya, atau menggantikan Fedka menggembala. Kakek tersayang, aku tak tahan lagi. Aku sudah mau lari pulang ke desa, tapi aku tak punya sepatu, dan aku takut pada udara dingin."

Ia teringat bagaimana kakeknya selalu pergi ke hutan untuk mengambil pohon Natal bagi keluarga tuan tanah, dan membawa Vanka bersamanya. Betapa menyenangkan waktu itu! Kakek terbatuk-batuk, pohon-pohon berderak kedinginan, dan Vanka pun ikut terbatuk-batuk.

"Datanglah, Kakek tersayang," tulis Vanka. "Demi Kristus, bawalah aku pergi dari sini. Kasihanilah aku, anak yatim piatu yang malang. Salam untuk semua orang, dan jangan berikan harmonikaku kepada siapa pun. Aku tetap cucumu, Ivan Zhukov. Kakek tersayang, datanglah."

Vanka melipat kertas itu empat kali dan memasukkannya ke dalam amplop yang ia beli sehari sebelumnya seharga satu kopek. Setelah berpikir sejenak, ia mencelupkan pena ke tinta dan menulis alamatnya:

"Untuk Kakek di desa."

Lalu ia menggaruk kepalanya, berpikir, dan menambahkan: "Konstantin Makarich."

Senang karena tak ada yang mengganggunya, ia mengenakan topinya dan berlari ke jalan tanpa mantel. Penjaga toko yang ia tanyai kemarin berkata bahwa surat dimasukkan ke dalam kotak pos, lalu diangkut ke seluruh dunia oleh kereta pos yang dikemudikan kusir mabuk dengan lonceng berdentang. Vanka berlari ke kotak pos terdekat dan memasukkan surat berharganya ke celah itu.

Satu jam kemudian, dengan hati penuh harapan, ia tertidur lelap. Ia bermimpi tentang sebuah tungku. Di atas tungku itu duduk kakeknya, kakinya yang telanjang berjuntai, sedang membacakan surat itu kepada para juru masak. Si Belut berjalan-jalan di dekat tungku sambil mengibaskan ekornya.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “Ванька (Vanka)” karya Anton Chekhov (Rusia, 1886). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

AC

Tentang Penulis: Anton Chekhov

Penulis cerpen dan dramawan Rusia (1860–1904).

Lihat Semua Karya Anton Chekhov →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Keluarga

Bayi Désirée
Keluarga 3 Menit Baca

Bayi Désirée

Madame Valmondé mengunjungi Désirée dan bayinya di perkebunan L'Abri. Ketika ia masuk, ia teringat bagaimana Désirée sendiri dulu masih bayi ketika Monsieur Valmondé menemukannya tertidur di bawa...

Don't Hate me Mom!
Keluarga 5 Menit Baca

Don't Hate me Mom!

SEBUAH KISAH IRONIS DI IRLANDIA UTARA YANG TELAH DITERJEMAHKAN KEDALAM BAHASA INDONESIA SAYA IBU TERBURUK DIDUNIA INI Oh, Tuhan, ijinkan aku menceritakan hal ini.., sebelum ajal menjemputku... 20 tahu...